Investasi Januari-September 2025 Capai Rp 1.434 T, Investor Domestik Cetak Rekor

Andi M. Arief
17 Oktober 2025, 12:16
realisasi investasi kuartal ketiga 2025
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/bar
Ilustrasi penyaluran investasi domestik ke proyek properti.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Investasi, Rosan P Roeslani memaparkan realisasi investasi pada Januari-September 2025 tumbuh 13,7% secara tahunan menjadi Rp 1.434,3 triliun. Pendorong utama pertumbuhan dana segar sepanjang tahun ini didorong oleh investor lokal.

Berdasarkan paparan Kementerian Investasi, penanaman modal asing atau PMA terakhir kalinya mendominasi pada akhir tahun lalu. Adapun, penanaman modal dalam negeri atau PMDN konsisten mendominasi setiap kuartalnya hingga kuartal ketiga tahun ini.

"Ini menunjukkan kepercayaan diri investor lokal untuk berinvestasi berjalan dengan baik, karena angka yang bicara," kata Rosan di kantornya, Jakarta, Jumat (17/10).

Nilai PMDN pada sembilan bulan pertama tahun ini mencapai Rp 789,7 triliun atau naik 30% dibandingkan realisasi Januari-September 2024 senilai Rp 607,03 triliun. Dengan demikian, kontribusi PMDN ke total investasi Januari-September 2025 mencapai rekor terbaru, yakni 55,1%.

Rosan menunjukkan investasi di luar Pulau Jawa masih mendominasi atau hingga 51,7% senilai Rp 741,8 triliun. Namun empat daerah dengan serapan investasi terbesar berkontribusi hingga 43,1% berada di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Banten.

Sulawesi Tengah menjadi satu-satunya provinsi luar Pulau Jawa yang menduduki posisi lima besar serapan investasi, yakni Rp 97,6 triliun atau berkontribusi 6,8% ke total investasi Januari-September 2025. Sebab, Sulawesi Tengah menjadi lokasi penanaman modal asing kedua pada periode tersebut senilai US$ 5,7 miliar atau 14,2% ke total PMA.

Realisasi investasi hingga September 2025 berhasil menyerap 1,95 juta tenaga kerja. Angka tersebut tumbuh 4,33% dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu sejumlah 1,87 juta orang.

Walau demikian, jenis perusahaan hasil investasi tersebut masih merupakan padat modal. Nilai investasi untuk pembukaan setiap lapangan kerja pada Januari-September 2025 tercatat naik hampir 9% dari capaian Januari-September 2024 senilai Rp 672,68 juta per tenaga kerja menjadi Rp 733,15 juta per tenaga kerja.

Sektor industri yang menyerap investasi paling besar adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya senilai Rp 196,4 triliun. Sektor ini juga menjadi pilihan utama investor asing dengan serapan US$ 10,8 miliar atau sekitar seperempat dari total PMA.

Asal negara investor asing pada Januari-September 2025 telah berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebab, Amerika Serikat yang menduduki peringkat keempat pada Januari-September 2024 senilai US$ 2,82 miliar kini digantikan oleh Jepang.

Adapun tiga dari empat negara asal investasi asing mencatatkan penurunan nilai investasi secara tahunan Pada Januari-September 2025, yakni Singapura, Cina, dan Malaysia. Investasi asal Singapura tercatat memiliki penyusutan terbesar atau 12,2% menjadi US$ 12,6 miliar, namun Negeri Singa masih menduduki peringkat pertama.

Investor asal Hong Kong masih menunjukkan minat yang tinggi lantaran investasi asing dari kawasan tersebut tercatat tumbuh 20,46% dari Januari-September 2024 senilai US$ 6,06 miliar menjadi US$ 7,3 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...