Danantara Godok Tiga Skema Penyelesaian Utang Whoosh, Target Akhir Tahun Rampung
Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan P Roeslani menargetkan dapat menerbitkan tiga skema penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh pada akhir tahun ini. Skema ini digodok bersama perwakilan Cina, yaitu National Development and Reform Commision.
"Setelah pengkajian skema penyelesaian utang Whoosh selesai, kami akan paparkan hasilnya ke semua kementerian terkait, seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, dan Dewan Ekonomi Nasional," kata Rosan di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Jumat (17/10).
Rosan mengatakan tidak mau skema penyelesaian utang Whoosh berpotensi menimbulkan masalah baru. Apabila utang ini tidak diselesaikan dengan baik, dampaknya akan terasa ke kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia. Karena itu, skema penyelesaian utang Whoosh tidak hanya fokus pada pemecahan masalah finansial tapi juga keberlanjutan pengoperasiannya di dalam negeri untuk meningkatkan kinerja KAI
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan permasalahan keuangan yang ditimbulkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) menjadi “bom waktu” perusahaan. KAI diperkirakan harus menanggung kerugian Whoosh hampir 4 triliun sejak pada 2022-2024.
Nilai tanggungan terhadap kerugian Whoosh paling besar terjadi pada tahun lalu atau hingga Rp 2,24 triliun. Kerugian Whoosh yang ditanggung KAI pada tahun ini diproyeksikan mencapai Rp 1,2 triliun.
“Kami akan berkoordinasi dengan Danantara untuk penyelesaian KCIC ini, selanjutnya untuk perbaikan dan restrukturisasi dari portofolio-portofolio yang ada,” kata Bobby.
Penugasan PT KAI sebagai pemimpin konsorsium Whoosh tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021. Proyek kereta cepat ini selesai pada 2023 dan memulai perjalanan pertama pada 17 Oktober 2023.
