Viral Konten Dedi Mulyadi soal Sumber Air Aqua, Ini Kata Danone

Mela Syaharani
23 Oktober 2025, 15:17
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (kanan) menyalami masyarakat saat peringatan Hari Jadi Bogor ke-543 di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/6/2025). Gubernur Jawa Barat mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan per
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nz.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (kanan) menyalami masyarakat saat peringatan Hari Jadi Bogor ke-543 di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/6/2025). Gubernur Jawa Barat mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 sebagai momentum untuk membangkitkan semangat persatuan dan kebersamaan dalam membangun Bogor.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunggah kunjungan atau sidaknya ke salah satu pengolahan air mineral kemasan milik Danone Aqua (Aqua) yang berada di Subang, Jawa Barat. Dalam unggahan tersebut, Dedi terkejut saat mengetahui bahwa sumber air kemasan ini berasal dari di bawah tanah yang diambil melalui sumur pengeboran. Kedalaman sumur tersebut lebih dari 100 meter. 

“Oh airnya dibor? Apakah tidak berefek pada pergeseran tanah? Saya kira sumbernya dari air permukaan, air sungai atau mata air. Jadi kategorinya sumur bor tanah dalam?” kata Dedi dikutip dari Youtubenya, Kamis (23/10).

Menanggapi hal tersebut, produsen air minum dalam kemasan, AQUA memberikan keterangan resminya. Perusahaan membantah bahwa sumber air yang digunakan AQUA berasal dari sumur bor biasa. 

“Tidak benar. AQUA menggunakan air dari akuifer dalam yang merupakan bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan. Air ini terlindungi secara alami dan telah melalui proses seleksi serta kajian ilmiah oleh para ahli. Sebagian titik sumber juga bersifat self-flowing (mengalir alami),” kata Aqua dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (23/10).

Perusahaan menyebut air AQUA berasal dari 19 sumber air pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka menjelaskan setiap sumber air dipilih melalui proses seleksi ketat yang melibatkan 9 kriteria ilmiah, 5 tahapan evaluasi dan melewati minimal 1 tahun penelitian.

Perusahaan menyebut proses-proses tersebut dilakukan oleh tim ahli dari berbagai disiplin ilmu seperti geologi, hidrogeologi, geofisika, dan mikrobiologi. Perusahaan hanya menggunakan air dari akuifer dalam (kedalaman 60–140 meter), bukan dari air permukaan atau air tanah dangkal. 

AQUA menyebut akuifer ini terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia dan tidak mengganggu penggunaan air masyarakat. 

“Hal ini juga berdasarkan hasil studi hidrogeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) yang mengonfirmasi bahwa sumber air AQUA tidak bersinggungan dengan air yang digunakan masyarakat dan setiap penentuan titik sumber air AQUA telah melewati kajian dampak terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar perusahaan.

AQUA juga membantah bahwa pengambilan air mereka mengganggu sumber air masyarakat. Mereka memastikan air yang digunakan AQUA berasal dari lapisan dalam yang tidak bersinggungan dengan air permukaan yang digunakan masyarakat. 

Mereka menyampaikan proses pengambilan air dilakukan sesuai izin pemerintah dan diawasi secara berkala oleh pemerintah daerah dan pusat melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

“AQUA memiliki Kebijakan Perlindungan Air Tanah Dalam (Ground Water Resources Policy), yang mengatur pengelolaan sumber daya air harus menjamin kemurnian dan kualitas sumber air,” 

AQUA juga memastikan bahwa proses pengambilan air dari tanah dalam ini dilakukan secara hati-hati dan tidak menyebabkan pergeseran tanah atau longsor. Namun, faktor lain seperti perubahan tata guna lahan dan deforestasi juga berpengaruh. 

“AQUA aktif melakukan konservasi dan pemantauan lingkungan secara berkala serta melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat untuk mengelola sumber daya air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga terjaga kualitas dan kuantitasnya. Hal ini juga menjaga area tangkapan dan resapan air tetap terjaga fungsi dan keberlanjutannya,” tulis perusahaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...