Bos Astra Agro Lestari Ungkap Tiga Faktor Pembentuk Harga CPO Tahun Depan
PT Astra Agro Lestari Tbk menyatakan akan ada tiga faktor yang mempengaruhi harga minyak sawit mentah atau CPO pada tahun depan. Namun emiten industri sawit berkode AALI ini mensinyalir produktivitas di kebun akan menjadi kunci dalam pembentukan harga di pasar global.
Presiden Direktur AALI, Djap Tet Fa mengatakan faktor pertama adalah peningkatan produktivitas di kebun. Karena itu, AALI berencana mempercepat tingkat program penanaman kembali dari 5.000 hektare pada tahun ini menjadi 8.000 hektare pada tahun depan.
"Kami belum mengetahui secara pasti faktor yang harus terkait pergerakan harga tahun depan. Namun hal pertama yang kami antisipasi adalah volume permintaan dan produksi CPO," kata Djap di Pangkalan Bun, Kamis (30/10) malam.
Djap menyampaikan faktor kedua yang akan mempengaruhi harga CPO pada tahun depan adalah performa produksi minyak nabati lain. Djap mencatat ada delapan jenis minyak nabati secara global, namun tiga minyak nabati yang mendominasi adalah CPO, minyak kedelai, dan minyak biji bunga matahari.
Business Insider mendata harga CPO masih menjadi yang terendah atau senilai US$ 1.004 per ton di pasar global pada bulan ini. Minyak kedelai dilego senilai US$ 1.100 per ton, sementara itu harga minyak bunga matahari mencapai US$ 1.411 per ton.
Djap menjelaskan tingginya daya saing harga CPO di pasar global disebabkan oleh produktivitas kelapa sawit sekitar 4 ton per hektar. Menurutnya, produksi minyak kedelai membutuhkan lahan hingga 7 hektare untuk memiliki produktivitas yang sama, sedangkan minyak bunga matahari sekitar 5 hektare.
Dia menyampaikan peningkatan produktivitas minyak nabati lainnya akan menekan daya saing CPO di pasar global. Sebab, negara penyerap minyak nabati secara global sensitif terhadap harga.
"Kalau harga CPO lebih tinggi dari minyak nabati lainnya, otomatis konsumen global akan berpindah. Negara seperti Cina, India, Pakistan, dan Bangladesh adalah negara yang sensitif terhadap perubahan harga," katanya.
Djap mengatakan faktor terakhir pembenth harga CPO yaitu eskalasi geopolitik. Seperti diketahui, saat ini ada dua tensi geopolitik yang berpengaruh terhadap rantai pasok CPO, yakni Rusia-Ukraina dan Israel-Iran.
Dia menyampaikan perang Rusia-Ukraina telah berhasil mendongkrak harga CPO pada 2022 setelah pasokan minyak biji bunga matahari tidak bisa keluar dari Ukraina. Sebab, tensi geopolitik tersebut membuat kapal yang melintas di Laut Hitam terbatas.
Sementara itu, perang Israel-Iran berpotensi memuat jalur Terusan Suez terhambat. Djap menilai tensi geopolitik pada akhirnya membentuk sentimen pasar yang akhirnya mempengaruhi harga.
"Karena itu, kami selalu mempelajari kebijakan di setiap negara konsumen CPO, seperti India, Cina, dan Amerika Serikat. Hal tersebut dilakukan agar kami bisa menyesuaikan strategi perdagangan dengan perkembangan yang ada," ujarnya.
