Profil Pabrik Petrokimia Lotte di Cilegon, Terbesar di Asia Tenggara
Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional proyek pabrik petrokimia milik PT Lotte Chemical Indonesia di Kota Cilegon, Banten, pada Kamis (6/11). Ia mengajak semua pihak untuk memastikan pabrik ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri nasional.
“Hari ini saya bangga, intinya itu yang ingin saya sampaikan. Mereka memberi manfaat kepada kita, kita harus jaga. Kita terima dengan hati dan jangan ada unsur-unsur yang mengganggu,” kata Prabowo saat menyampaikan pidato peresmian, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (6/11).
Presiden meminta agar masyarakat dan pihak lainnya menerima investasi dengan hati terbuka dan tidak mengganggu proses operasional. Melalui kerja sama ini, Indonesia diharapkan bisa berkembang lebih cepat dalam kapasitas industri dan ekonomi.
“Bangsa yang terbuka, yang perlu berhubungan baik dengan semua pihak. Kita akan cepat menuju kemakmuran,” ucapnya.
Dikutip dari Antara, industri petrokimia merupakan bentuk hilirisasi migas dengan produk akhir, seperti komponen kendaraan, peralatan medis pipa, kemasan plastik, peralatan isolasi listrik, dan berbagai bahan baku industri lainnya.
Profil Pabrik Lotte Chemical
Lotte Chemical di Cilegon ini merupakan proyek yang dibangun oleh Lotte Group dari Korea Selatan. Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar US$ 3,98 miliar (Rp 60 triliun).
Pabrik ini dibangun pada kompleks seluas 110 hektare dengan luas bangunan pabrik 70 hektare. Lotte Chemical Indonesia memiliki kapasitas produksi naphtha cracker sebesar 3 juta ton per tahun yang akan menghasilkan 15 produk, antara lain 1 juta ton etilena, 520 ribu ton propilena, 350 ribu ton polipropilena, 140 ribu ton butadiena, dan 400 ribu ton BTX (benzena, toluena, xilena) setiap tahun.
Sebanyak 70% produknya dipakai untuk keperluan substitusi impor di dalam negeri dan sisanya 30% untuk ekspor. “Pabrik ini masuk proyek strategis nasional dengan nilai investasi US$ 3,9 miliar, tapi kelihatannya ada kenaikan pengeluaran sehingga nilai investasinya menjadi US$ 4 miliar atau sekitar Rp 63 triliun-Rp 64 triliun,” kata Bahlil dalam peresmian pabrik.
Dia mengatakan pabrik ini merupakan salah satu investasi petrokimia terbesar di Asia Tenggara. Fasilitasnya mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2025 dan terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450 ribu ton yang telah beroperasi sebelumnya.
Fasilitas ini juga dirancang untuk menggunakan hingga 50% LPG selain naphtha sebagai bahan baku utama, memungkinkan efisiensi biaya dan operasional yang signifikan.
Lotte Chemical Indonesia diproyeksikan mampu menciptakan nilai ekonomi sekitar US$ 2 miliar per tahun. Pemerintah menyebut pabrik ini memperkuat rantai pasok industri hilir, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Keberadaannya juga diharapkan mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia dan meningkatkan tingkat kemandirian nasional hingga 67%, sejalan dengan target peta jalan Making Indonesia 4.0.
Pembangunan Sempat Terhenti
Dilansir dari laman resmi Lotte Chemical Indonesia, pembangunan pabrik ini dimulai sejak 2016 namun progresnya terhenti lama setelah peletakan batu pertama karena beberapa kendala. Mulai dari pembebasan lahan, penyelesaian berbagai perizinan investasi di kementerian/lembaga dan daerah, fasilitasi impor mesin/peralatan, pemberian insentif investasi yang kompetitif hingga mengawal proses pembangunan.
Dari seluruh aspek, kendala terbesar dari proyek ini adalah akuisisi lahan. Pembangunan pabrik ini juga terkendala ketika terjadi pandemi Covid-19 pada 2020.
Progres pembangunan baru berlanjut pada awal 2022, saat pemerintah melakukan nota kesepahaman dengan Lotte Chemical dalam rangka akselerasi proyek. Tiga bulan berselang, pada April 2022 proses awal konstruksi dilaksanakan.
Setelah tiga tahun pembangunan, proses uji coba pabrik sudah dimulai pada Mei 2025 dan beroperasi komersial pada Oktober 2025.
