Indonesia Banjir Baja Impor, Industri Nasional Semakin Tertekan

Andi M. Arief
10 November 2025, 15:16
Pekerja mengolah forenikel di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (16/9/2025). Harita Nickel memiliki tiga smelter dengan 16 lini produksi yang menghasilkan feronikel untuk industri
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/tom.
Pekerja mengolah forenikel di smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Harita Nickel, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (16/9/2025). Harita Nickel memiliki tiga smelter dengan 16 lini produksi yang menghasilkan feronikel untuk industri baja nirkarat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mencatat utilisasi industri baja nasional hanya sebesar 52%. Menurutnya, hal tersebut didorong oleh dominasi baja impor di pasar domestik hingga 55%.

Faisol menjelaskan tingginya dominasi baja impor disebabkan oleh lesunya permintaan properti secara global. Alhasil, banyak baja impor yang masuk ke Indonesia untuk mendapatkan pasar yang besar.

"Properti sebagai industri yang menyerap hasil produksi industri saja sedang mengalami penurunan permintaan di pasar global. Karena itu, negara produsen baja berlomba-lomba masuk ke negara dengan pengawasan di perbatasan maupun pasar yang lemah," kata Faisol di Gedung DPR, Senin (10/11).

Faisol mencatat mayoritas baja impor yang ada di pasar lokal berasal dari Cina pada tahun ini. Karena itu, Faisol berencana memperketat arus baja impor ke dalam negeri untuk menggenjot utilitas industri baja di dalam negeri.

Dia mengaku telah mulai berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan untuk memperkuat pengawasan di pelabuhan impor. Menurutnya, pengetatan pengawasan tersebut akan mirip dengan yang dilakukan pada tekstil impor.

"Kami akan memperketat pengawasan khususnya melalui Kementerian Keuangan karena ada bea cukai di pelabuhan impor yang bisa melakukan pengawasan langsung terhadap barang impor," katanya.

World Steel mendata Indonesia merupakan produsen besi baja ke-14 dengan volume produksi mencapai 18 juta ton pada tahun lalu. Pada tahun yang sama, Indonesia menjadi negara net importir sebesar 1,4 juta ton dengan total volume impor mencapai 12,8 juta ton.

Untuk diketahui, mayoritas bahan baku industri baja masih bergantung pada impor, yakni bijih besi dan scrap baja. Faisol mengakui penutupan keran impor telah mengganggu proses produksi industri baja nasional. Namun Faisol menekankan faktor utama yang membuat utilitas industri baja di level 52% adalah tingginya volume baja impor di pasar lokal.

"Pengusaha akan mencari jalan keluar untuk mendapatkan bahan baku, karena itu pengaruh penutupan keran impor scrap baja tidak banyak berpengaruh. Faktor yang paling mempengaruhi utilitas industri baja nasional adalah tingginya volume impor," katanya.

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau IISIA mengatakan seluruh peleburan baja di dalam negeri telah menghentikan operasinya pada bulan ini. Sebab, pemerintah telah menutup keran impor besi tua yang menjadi bahan baku industri tersebut.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum IISIA, Ismail Mandry memberikan sinyal mesin produksi di industri peleburan baja saat ini mati karena tidak ada bahan baku. Ia menilai penutupan keran impor besi tua untuk menghentikan penyebaran kontaminasi zat radioaktif atau Cesium-137 tidak tepat.

"Penghentian keran impor besi tua keliru karena pemerintah juga belum tahu apakah scrap yang jadi sumber merupakan baja atau mineral lainnya. Puluhan ribu buruh di industri baja sekarang tidak bekerja," kata Ismail kepada Katadata.co.id, Rabu (22/10).

Untuk diketahui, hampir setengah dari industri baja di dalam negeri menggunakan besi tua sebagai bahan baku. Adapun pabrikan mengolah besi tua menjadi besi billet sebelum akhirnya dibentuk menjadi komponen konstruksi, seperti kawat, rangka baja, dan mur.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...