Harga Minyak Goreng Berpotensi Melonjak Usai B50, Ini Hitungan Analis CPO Global

Andi M. Arief
15 November 2025, 10:27
minyak goreng
ANTARA FOTO/Akbar Tado/nz.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemangku kepentingan minyak nabati sepakat bahwa program B50 berpotensi mendongkrak harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hingga lebih dari US$ 1.200 per ton pada tahun depan.

Kenaikan tersebut dikhawatirkan membuat program B50 sulit dipertahankan pemerintah karena lonjakan harga di pasar ekspor akan merembet ke pasar domestik.

Direktur Eksekutif Oil World Thomas Mielke mengatakan pemerintah membutuhkan tambahan 2,2 juta ton CPO untuk menjalankan program B50. Kebutuhan ini akan diambil dari porsi ekspor, sehingga otomatis mengurangi pasokan minyak nabati global.

“Kalau campuran biodiesel Indonesia dinaikkan, harga akan langsung naik di pasar ekspor. Jika harga naik, Pemerintah Indonesia kemungkinan besar akan mengeluarkan kebijakan untuk mengendalikan harga di dalam negeri yang akhirnya hanya akan memperburuk keadaan,” ujar Mielke dalam Indonesia Palm Oil Conference 2025, Jumat (14/11).

Sebagai informasi, pemerintah pernah melarang ekspor CPO selama 25 hari hingga 23 Mei 2022. Data Trading Economics menunjukkan harga CPO sempat menyentuh RM 7.140 per ton pada 25 April 2022, sedangkan S&P Global mencatat harga mendekati US$ 2.000 per ton pada Maret 2022.

Di dalam negeri, lonjakan harga global tersebut membuat harga minyak goreng curah menembus hampir Rp 24.000 per liter, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 11.500 per liter.

“Saat pemerintah mulai mengatur harga CPO global dengan menahan ekspor, harga justru akan naik lebih tinggi lagi," ujarnya. 

Pemerintah sendiri berencana menaikkan campuran CPO dalam solar dari 40% (B40) tahun ini menjadi 50% (B50) pada 2026. Kebijakan tersebut akan bersifat wajib bagi seluruh produsen bahan bakar solar.

Proyeksi Harga CPO Global

Direktur Godrej International Ltd Dorab Mistry memproyeksikan harga CPO global dapat mencapai RM 5.500 atau sekitar US$ 1.300 per ton, dan level itu diperkirakan terjadi 30 hari setelah pemerintah mengumumkan mandatori B50.

Menurutnya, harga bahkan bisa menembus RM 5.500 per ton apabila harga minyak kedelai global ikut naik. Pasokan minyak kedelai sendiri diprediksi menurun akibat kebijakan biodiesel di Amerika Serikat dan Brasil.

“Namun daya saing CPO akan lemah jika harga tembus RM 5.500 per ton,” kata Mistry kepada Katadata.co.id.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...