15 Produsen Kendaraan Rendah Emisi Karbon Bangun Pabrik di RI, Investasi Rp 22 T

Andi M. Arief
19 November 2025, 17:14
Sejumlah kendaraan bermotor melintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/9/2022). Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Ibu Kota mengusulkan perluasan zona rendah emisi (low emission zone/LEZ) diberlakukan di Jal
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Sejumlah kendaraan bermotor melintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/9/2022). Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Ibu Kota mengusulkan perluasan zona rendah emisi (low emission zone/LEZ) diberlakukan di Jalan MH Thamrin dan Jenderal Sudirman untuk mendukung pengendalian pencemaran udara di Jakarta.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perindustrian mendata total investasi dalam industri kendaraan rendah emisi karbon atau LCEV telah mencapai Rp 22,37 triliun sejak 2022 hingga September 2025. Investasi tersebut telah memproduksi sekitar 878.000 unit LCEV yang melibatkan sekitar 274.000 pabrik komponen otomotif lokal.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Setia Diarta mengatakan telah ada 15 produsen LCEV sejak 2022 sampai saat ini. Menurutnya, salah satu pertimbagan investasi tersebut adalah peningkatan nilai tambah di industri otomotif nasional hingga dua kali lipat.

"Jadi, Bosch tidak salah pilih tempat dalam berinvestasi pabrik komponen EV di Indonesia. Kami berharap Bosch dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pelaksanaan program LCEV dan penerapan advance manufacturing," kata Setia dalam upacara peletakan batu pertama pabrik komponen kendaraan listrik Bosch di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (19/11).

Setia mendata nilai tambah bruto dalam industri kendaraan bermotor mencapai Rp 180 triliun. Adapun total tenaga kerja yang terserap ekosistem industri otomotif hingga Agustus 2025 telah mencapai sekitar 182.000 orang.

Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan mendata kapasitas produksi mobil listrik berbasis baterai atau BEV mencapai 374.000 unit per tahun pada akhir tahun ini. Sebab, 18 produsen BEV dijadwalkan mulai melakukan produksi pada awal tahun depan setelah merealisasikan investasi senilai Rp 19,9 triliun.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Rachmat Kaimuddin, menyampaikan kata kunci dalam peningkatan penggunaan EV di dalam negeri adalah produksi lokal. Rachmat mengakui volume impor EV secara utuh atau CBU melonjak selama beberapa tahun terakhir akibat insentif peniadaan bea masuk dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah pada EV.

Rachmat memaparkan impor EV pada tahun lalu naik sekitar sembilan kali lipat dari sekitar 2.000 unit pada 2023 menjadi lebih dari 18.000 unit. Menurutnya, volume impor EV CBU akan naik lebih dari 250% menjadi 65.000 unit pada tahun ini. Dengan demikian, total penjualan EV pada tahun ini diprediksi mencapai 100.000 unit dengan produksi lokal diperkirakan sekitar 35.000 unit.

Namun, Rachmat menekankan seluruh penjualan tersebut akan pindah ke dalam negeri mulai tahun depan. Sebab, Rachmat menekankan pemerintah tidak akan memperpanjang insentif impor EV CBU pada tahun depan. Dengan kata lain, penjualan EV yang diproduksi di dalam negeri pada tahun depan setidaknya mencapai 100.000 unit.

"Memang EV saat ini masih impor. Namun kami memberikan izin impor tersebut pada pelaku yang janji membangun pabrik EV di dalam negeri," katanya saat menjadi pembicara dalam Katadata SAFE 2025, di Jakarta, Kamis (11/9).


Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...