Produsen Sawit Enggan Masuk Bursa, Transaksi CPO di ICDX Masih Seret
Nilai ekspor minyak sawit mentah Indonesia sudah menembus Rp 511 triliun tapi transaksi CPO di bursa domestik masih tertahan di bawah 1%. Pemerintah kini mengejar peningkatan likuiditas CPO di bursa nasional menjadi dua kali lipat pada tahun ini.
Rendahnya transaksi di bursa domestik membuat harga referensi minyak sawit mentah nasional di pasar ekspor masih bergantung pada bursa CPO Malaysia dan Belanda. Pada Desember 2025, harga dalam bursa CPO Indonesia menjadi yang terendah dibandingkan bursa Malaysia dan Belanda, yakni US$ 853,13 per ton.
"Kami akan melihat perkembangan transaksi CPO di bursa berjangka, Mudah-mudahan bisa 1% dari nilai ekspor CPO tahun ini," kata Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1).
Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau ICDX mendata nilai transaksi CPO sepanjang 2025 hanya Rp 2,69 triliun. Sementara nilai ekspor CPO pada 10 bulan pertama tahun lalu mencapai US$ 30,5 miliar atau Rp 511,71 triliun.
Dyah mengakui partisipasi perusahaan CPO lokal masih menjadi tantangan utama peningkatan volume transaksi di bursa berjangka. Strategi pemerintah dalam menumbuhkan kegiatan transaksi masih belum berubah, yakni sosialisasi secara organik.
Direktur ICDX Nursalam berharap agar 50% volume CPO yang diekspor telah diperdagangkan di bursa dalam negeri. Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia mendata volume ekspor hingga Oktober 2025 mencapai 27,69 juta ton atau naik sekitar 11,5% secara tahunan.
Sejauh ini telah ada 58 produsen CPO dengan pangsa pasar hampir 70% dari produksi CPO nasional yang bergabung dengan ICDX saat ini. Namun volume transaksinya di bursa masih minim lantaran belum ada produsen yang mau mulai memasukkan hasil produksinya ke bursa dengan volume besar.
"Para produsen CPO tidak memiliki complain dengan bursa di dalam negeri. Namun mereka belum mau masuk dengan volume besar karena belum ada perusahaan yang memulai," kata Nursalam.
Peningkatan volume CPO di bursa menjadi tantangan utama. Langkah tersebut penting agar dapat meningkatkan kredibilitas harga yang terbentuk di bursa menjadi referensi eksportir CPO global.
Karena itu, bursa sedang mencari jenis insentif yang dapat mendongkrak volume perdagangan di bursa dan meningkatkan partisipasi produsen CPO nasional. Pembentukan insentif tersebut masih dibicarakan dengan beberapa produsen di dalam negeri.
"Kami sedang mencari apa yang diinginkan pelaku industri agar bisa bergabung ke bursa. Ini penting karena kami punya cita-cita yang tinggi, yakni memuat referensi harga sendiri," katanya.
