Potensi Gagal Panen di Tiga Provinsi Sumatera Meningkat Imbas Bencana
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan potensi gagal panen di tiga provinsi terdampak bencana yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meningkat. Hal ini menyusul cuaca ekstrem dan bencana banjir yang melanda tiga provinsi tersebut pada akhir November 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini hal tersebut terlihat dari perkembangan kondisi pertanaman padi di tiga provinsi terdampak bencana itu. “Pada November 2025 sebesar 11,43% lahan pertanian yang biasa ditanami padi di total tiga provinsi tersebut berpotensi terjadi gagal panen,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).
Pudji menjelaskan, proporsi potensi gagal panen itu meningkat tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Sementara proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop di total tiga provinsi pada November 2025 hanya sebesar 34,63%.
“Dimana ini (lahan yang sedang ditanami) lebih kecil dibandingkan dengan kondisi November tahun lalu (36,70%),” ujar Pudji.
Pada akhirnya, Pudji memperingatkan kondisi tersebut berdampak pada luas panen November 2025. Selanjutnya juga akan mempengaruhi potensi luas panen tiga bulan ke depan.
Terganggunya Produksi Pangan dan Picu Inflasi
Adapun bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem di Sumatera pada akhir November 2025 dipicu oleh bibit Siklon Tropis 95B yang bertumbang menjadi Siklon Tropis Senyar. Selain itu juga menjadi pengaruh Siklon Tropis Koto.
“Kedua sisi tersebut meningkatkan curah hujan yang sangat lebat di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang kemudian menyebabkan bencana hidrometeorologi,” kata Pudji.
Kondisi inilah yang menyebabkan produksi pangan di tiga provinsi terdampak bencana tersebut terganggu. Curah hujan yang ekstrem mempengaruhi produksi tanaman pangan dan hortikultura selama 2025.
Tiga provinsi ini juga mengalami inflasi pada Desember 2025. Berdasarkan pantauan khusus inflasi di wilayah bencana yang dilakukan BPS, Provinsi Aceh mengalami inflasi tertinggi di wilayah bencana itu mencapai 3,60% setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,67%.
Lalu inflasi di Provinsi Sumatera Utara pada Desember 2025 tercatat 1,66% setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,42%. Provinsi Sumatera Barat juga mengalami inflasi 1,48% setelah bulan sebelumnya tercatat mengalami deflasi 0,24%.
“Penyebab terjadinya inflasi di ketiga wilayah tersebut dikarenakan kenaikan harga komoditas yang diakibatkan efek bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025,” ujar Pudji.
