Produksi Beras Diramal Turun Tahun Ini Akibat Bencana hingga El Nino
Produksi beras diperkirakan hanya mencapai 33 juta ton pada tahun ini, turun turun 1,7 juta ton dibandingkan capaian tahun lalu 34,71 juta ton. Cuaca ekstrem dan bencana di Pulau Sumatera menjadi faktor utama turunnya produksi beras nasional.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santoso menjelaskan, produksi beras pada Januari-Februari 2026 akan terganggu puncak curah hujan tinggi. Dengan kata lain, volume beras pada dua bulan pertama tahun ini dinilai tidak akan mencapai 4,78 juta ton seperti perkiraan Badan Pusat Statistik.
"Saya tidak yakin prediksi BPS akan tercapai, apalagi kalau sentra produsen beras terkena banjir. Karena itu, rasio konversi gabah ke beras akan semakin kecil pada periode tersebut," kata Andreas kepada Katadata.co.id, Selasa (6/1).
Menurutnya, produksi pada panen raya akan terganggu akibat rusaknya beberapa sawah di wilayah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mayoritas atau 75% dari luas sawah terdampak banjir dan longsor di Sumatera ada di wilayah Aceh.
Andreas menyampaikan, gangguan produksi akan berlanjut karena adanya El Nino pada Juni-Juli 2026. Menurutnya, iklim kemarau tersebut akan berlanjut setidaknya hingga Juni 2027.
Karena itu, produksi beras pada 2026-2027 akan mengulang tren penurunan produksi pada 2023-2024. Realisasi produksi beras pada 2024 adalah 30,62 juta ton, sedangkan impor saat itu mencapai lebih dari 4,5 juta ton.
"Penurunan produksi beras tahun depan bisa lebih besar dari 1,7 juta ton. Itu yang perlu diantisipasi pemerintah sejak saat ini," katanya.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa meramalkan produksi beras pada tahun ini mencapai 34,7 juta ton yang membuat stok akhir 2026 dapat mencapai 16,18 juta ton. Alhasil, petani beras dapat melakukan ekspor setidaknya 71 ton pada tahun ini
Adapun cadangan beras di masyarakat pada akhir tahun lalu mencapai 12,52 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk cadangan beras pemerintah sejumlah 3,24 juta ton atau setara dengan kebutuhan beras nasional lima bulan.
"Ketersediaan stok dan produksi secara nasional dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat," kata Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (1/1).
