Pengusaha: Tingkat Hunian Hotel saat Libur Nataru 2026 Tak Sesuai Harapan

Andi M. Arief
7 Januari 2026, 19:31
hotel, okupansi hotel, libur natal tahun baru, nataru
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/bar
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI menilai, okupansi hotel selama momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 tak sesuai harapan. Rata-rata okupansi hotel di atas 70% hanya terjadi pada 25 dan 31 Desember 2025, berbeda dari perkiraan yang dapat mencapai 100% selama empat hari libur. 

"Tentu kejadian pada Nataru 2025/2026 akan berulang pada libur Imlek 2026. Peningkatan daya beli tidak bisa dilakukan dalam waktu sebulan," ujar Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).

Karena itu, maulana memperkirakan puncak okupansi hotel pada pekan ketiga Februari 2026 hanya akan mencapai 70%. Lonjakan keterisian hotel hanya akan terjadi di wilayah pariwisata atau tempat komunitas Khonghucu, seperti Bali dan Medan.

Selain daya beli yang belum pulih, rendahnya puncak okupansi didorong oleh Ramadan 2026. Maulana memperkirakan masyarakat akan menahan daya belinya selama Imlek 2026 untuk digunakan selama libur Lebaran 2026.

Maulana menilai perjalan mudik selama musim liburan lebaran sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di dalam negeri. "Konsumen akan memperjuangkan melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026 walaupun daya beli turun. Jadi, perjalanan wisata akan berkurang, membuat lonjakan okupansi tidak besar selama Imlek 2026," katanya.

Badan Pusat Statistik mendata, tingkat okupansi hotel biasanya memuncak setiap November. Namun pada November 2025, tingkat keterisian hotel hanya mencapai 53,89%, lebih rendah dibandingkan capaian 2024 sebesar 55% maupun 2023 hingga 56,7%.

Sebanyak 10 provinsi mencatatkan penurunan okupansi hotel secara bulanan pada November 2025. Salah satu penurunan okupansi terbesar terjadi di Bali, yakni dari 64,57% pada Oktober 2025 menjadi 57,97%

Maulana sebelumnya menjelaskan penurunan wisatawan, antara lain terjadi di Bali yang disebabkan oleh berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara. PHRI pun belum dapat membaca data apakah benar terjadi pergeseran tujuan pelesir oleh wisatawan domestik dari Bali ke Yogtakarta pada Nataru 2025/2026.

Menurut Maulana, wisatawan yang mengunjungi Bali umumnya adalah turis asing. Adapun kunjungan wisman ke Pulau Dewata saat ini umumnya tidak setinggi pada musim puncak selama Juli-Agustus atau musim panas.

Selain itu, kunjungan wisman ke Bali saat ini tertahan sentimen negatif bencana banjir. Sementara itu, kunjungan wisnus ke Pulau Dewata diproyeksikan minim akibat daya beli yang belum pulih dna tingginya harga tiket pesawat.

"Harga tiket pesawat ke Bali saat ini cukup mahal atau sekitar Rp 3,5 juta untuk perjalanan pulang-balik dari Jakarta. Namun pendorong utama penurunan jumlah wisatawan di Bali adalah rendahnya kunjungan wisman," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...