Insentif Berakhir, Banyak Produsen Belum Produksi EV di Dalam Negeri

Andi M. Arief
9 Januari 2026, 14:26
ev, byd, kendaraan listrik
Katadata / nur hana nabila
Pembangunan pabrik kendaraan listrik BYD di lahan PT Surya Semesta Interbusa Tbk (SSIA) di Subang, Jawa Barat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Masa berlaku insentif bebas pajak impor kendaraan listrik atau EV telah berakhir tapi mayoritas pabrik domestik belum juga berproduksi. Pemerintah mengingatkan dapat menarik bank guarantee investor jika realisasi investasi tidak terjadi, termasuk pabrikan asal Cina, BYD.

"Pabrik EV seperti PT BYD Auto Indonesia sedang melakukan konstruksi. Mereka sudah harus memulai produksi pada tahun ini, kalau tidak bank guarantee sebagai syarat menikmati Perpres Nomor 79 Tahun 2023 akan ditarik pemerintah," kata Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi Nurul Ichwan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (9/1).

Setidaknya ada 12 produsen EV yang memanfaatkan insentif Perpres Nomor 79 Tahun 2023 pada 2024-2025. Dengan demikian, total produsen EV di dalam negeri pada tahun ini diperkirakan mencapai 18 entitas.

Kapasitas terpasang pabrik EV di dalam negeri pada tahun ini mencapai 374 ribu unit per tahun dengan nilai investasi Rp 19,9 triliun. Sejauh ini, baru ada dua dari 18 pabrik EV yang mulai memproduksi, yakni PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia dan PT SGMW Motor Indonesia.

Nurul belum mengumumkan jadwal dimulainya produksi 16 pabrik lainnya yang telah memanfaatkan insentif peniadaan pajak impor itu. "Namun dengan biaya konstruksi pabrik yang mahal dan ancaman penarikan bank guarantee , tidak ada alasan untuk tidak merealisasikan investasi pabrik itu," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian menyatakan baru BYD yang  akan memulai produksi EV di dalam negeri pada tahun ini. Investor lainnya belum mengumumkan kapan pabrik hasil investasi tersebut akan beroperasi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta mencatat konstruksi pabrik BYD di Subang Jawa Barat sudah mencapai 76% per 7 September 2025. "Kemungkinan besar BYD mulai produksi di dalam negeri pada 2026," kata Setia.

Presiden Direktur BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan  fasilitas mereka bisa mulai memproduksi BYD Atto 1, Seal hingga Sealion 7 pada kuartal pertama 2026. Keputusan ini merupakan komitmen perusahaan dalam meningkatkan daya saing dan memperkuat dominasi di pasar Indonesia.

“Saat ini konstruksi perkembangan dari pabrik kami masih on track. Masukan dan pendapat dari otoritas terkait, pemerintah Indonesia juga sangat mendukung terhadap perkembangan pabrik kami,” kata Zhao beberapa waktu lalu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...