Kemenkes Periksa Sampel Superflu, Sudah Capai 62 Kasus di Delapan Provinsi
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya masih memeriksa sampel virus influenza A (H3N2) subclade K atau superflu yang menyebar di Batam, Kepulauan Riau. Namun, mantan bankir ini mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu khawatir terkait penyebaran Superflu di dalam negeri.
Budi menyampaikan Superflu bukan penyakit baru yang ada di dalam negeri. Menurutnya, superflu hanya sebatas flu dengan pegembangan varian yang berbeda.
"Seperti Covid-19 ada varian alfa, beta, sampai omicron. Superflu ini hanya ada perubahan varian dari virus flu saja. Jadi, menurut saya, masyarakat tidak usah terlalu khawatir," kata Budi di Pabrik PT Bayer Indonesia, Raabu (14/1).
Kemenkes mendeteksi Superflu masuk di Indonesia sejak Agustus 2025. Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kemenkes mendata total kasus Superflu telah mencapai 62 kasus dan tersebar di delapan provinsi. Adapun tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa TImur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, mengatakan subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Secara global, varian ini telah dilaporkan pada lebih dari 80 negara.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” kata Prima dalam siaran pers tahun lalu, Rabu (31/12).
Superflu merujuk pada subclade K, cabang baru dari virus influenza A(H3N2) yang selama puluhan tahun telah beredar sebagai flu musiman. Melansir situs web aliansi global untuk vaksin dan imunisasi, Gavi.org, para ilmuwan pertama kali mendeteksi subclade K pada pertengahan 2025.
Mereka mencatat penyebaran yang cepat di sejumlah negara, seperti Inggris, Jepang, dan beberapa wilayah Eropa. Meski membawa sejumlah mutasi genetik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai subclade K tidak menunjukkan pola evolusi yang tidak biasa maupun gejala yang lebih berat dibandingkan virus influenza H3N2 lainnya.
“Hingga saat ini kami tidak melihat adanya tanda-tanda evolusi virus yang luar biasa atau mengkhawatirkan,” kata Direktur World Influenza Centre The Francis Crick Institute, Nicola Lewis.
