Pupuk Indonesia Resmikan Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kaltim

Image title
29 Januari 2026, 10:21
Pupuk Indonesia, Pupuk Kaltim, revamping Ammonia pabrik-2
Pupuk Kaltim
Ilustrasi pekerja mengecek pupuk di pabrik milik PT Pupuk Kaltim.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan proyek Revamping Ammonia Pabrik-2, pada Kamis (29/1).

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengatakan proyek ini menjadi bagian dari langkah strategis revitalisasi industri pupuk nasional untuk meningkatkan efisiensi energi, menekan emisi karbon, serta memperkuat ketahanan pangan.

Menurut Rahmad, revitalisasi pabrik pupuk selaras dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 terkait penguatan ketahanan pangan nasional. Pupuk Indonesia memilih melakukan revitalisasi secara mandiri tanpa membagi proyek penugasan bersubsidi (PSO) ke pihak lain.

“Revitalisasi ini adalah komitmen kami yang tersebar di seluruh anak perusahaan. Dari tujuh pabrik yang direncanakan, empat sedang dibangun dan tiga lainnya dalam tahap persiapan. Hari ini yang diresmikan adalah revamping pabrik ammonia,” kata Rahmad, Kamis (29/1).

Selain proyek revamping ammonia, Pupuk Indonesia juga tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lain, seperti pabrik soda ash yang selama ini masih 100% bergantung pada impor. Proyek ini dinilai relevan dengan ketahanan pangan karena menghasilkan produk samping amonium klorida, bahan baku pupuk yang lebih murah dibandingkan amonium sulfat.

“Produk samping soda ash ini akan menghasilkan amonium klorida, yang harganya lebih murah dan bisa menggantikan amonium sulfat. Jadi meskipun produk utamanya soda ash, tetap ada kontribusi terhadap ketahanan pangan,” ujarnya.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal, menjelaskan Ammonia Pabrik-2 merupakan pabrik tertua milik perusahaan yang telah beroperasi sejak 1984 dengan kapasitas produksi sekitar 1.500 ton per hari. Seiring usia pabrik, konsumsi energi dinilai sudah tidak efisien sehingga perlu dilakukan peremajaan.

“Energi yang digunakan masih tinggi. Melalui revamping ini, kami mengganti dan menambah peralatan lama yang tidak efisien sehingga konsumsi energi bisa ditekan,” kata Gusrizal.

Revamping Turunkan Konsumsi Energi dan Emisi Karbon

Ia menyebutkan, setelah revamping, konsumsi gas pabrik dapat diturunkan hingga 4 MMBtu per ton ammonia, dengan nilai investasi atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 900 miliar. Investasi tersebut diperkirakan dapat kembali dalam waktu empat hingga lima tahun.

Alhamdulillah, proyek ini bisa diselesaikan dan diresmikan hari ini. Selain menekan biaya produksi, ini juga akan membantu ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Secara teknis, proyek Revamping Ammonia Pabrik-2 mencakup pembaruan teknologi pada shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan operasi. 

Selain itu, sistem kontrol pabrik kini menggunakan Distributed Control System (DCS) berbasis digital, menggantikan sistem pneumatik konvensional.

Pupuk Indonesia mencatat, proyek ini berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 110.000 ton CO2 per tahun, sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Efisiensi energi yang dihasilkan juga diharapkan menekan biaya produksi sehingga harga pupuk dapat tetap terjangkau bagi petani.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...