Menyusuri Kilang Balongan Pertamina Penopang Kebutuhan BBM Jakarta-Jawa Barat

Leoni Susanto
30 Januari 2026, 15:22
kilang Balongan, BBM, Pertamina
Pertamina
Refinery Unit (RU) VI di Balongan, milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Deru mesin kapal menggema di tengah hujan rintik dan debur ombak di dermaga apung (jetty) komplek kilang minyak Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Kamis (29/1). Dermaga ini berada di komplek Refinery Unit (RU) VI Balongan atau kilang Balongan yang dimiliki PT Pertamina Kilang Internasional (KPI).

Lokasinya strategis di Utara Pulau Jawa, dekat dengan kawasan industri maupun pusat perekonomian di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kapal yang sedang berlabuh saat itu adalah kapal Pertamina International Shipping (PIS) bermuatan 2.000 kiloliter yang sedang memuat avtur atau bahan bakar pesawat. Setelah proses loading sekitar sepuluh jam selesai, avtur hasil olahan RU VI Balongan itu akan dikirim sesuai pesanan ke Pontianak, Kalimantan Timur.

RU VI Balongan atau kilang Balongan pertama kali beroperasi pada 1994, merupakan satu dari enam kilang minyak milik Pertamina di Indonesia. Per 2022, kapasitas pengolahannya naik dari 125.000 barel per hari (bph) menjadi 150.000 bph, mencakup 14,2% dari total kapasitas kilang milik Pertamina.

Produk utama kilang Balongan adalah Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Porsinya mencapai 53% dari total bahan bakar yang dihasilkan RU VI Balongan. Selain itu, kilang juga memproduksi solar, avtur, dan produk non-BBM seperti liquefied petrolium gas (LPG) dan propylene. Volume produksi avtur sendiri masih cenderung kecil, mencakup 2% dari keseluruhan produk yang dihasilkan RU VI Balongan.

Memasok BBM untuk Jakarta dan Jawa Barat

Produk-produk ini sebagian besar menyuplai kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) maupun non-BBM di bagian barat Pulau Jawa, termasuk Jakarta.

“Kami menyuplai sebagian besar atau sekitar 82% (dari total produksi) ke daerah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Distribusinya lewat Depot Cikampek, Bandung, dan Depot Plumpang,” kata Engineer I Offsite PT KPI RU VI Balongan Nanda Tri Wibowo, Kamis (29/1).

Kilang menerima pasokan minyak mentah atau crude oil dari sejumlah lapangan minyak, mulai dari Jatibarang di Indramayu, Banyu Urip di Surabaya, hingga Forel di Kepulauan Natuna.

Kilang Balongan
Refinery Unit VI Kilang Balongan (Pertamina)

Pasokan ini masuk lewat Single Point Mooring (SPM) yang jaraknya sekitar 17 kilometer ke laut dari dermaga apung. RU VI Balongan memiliki tiga SPM yang menyesuaikan besaran buatan, mulai dari 17.500 deadweight tonnage (DWT) sampai 165.000 DWT.

Luas area RU VI Balongan mencapai hampir 451,7 hektare dan terbagi menjadi beberapa area. Area ini berbentuk blok tempat pipa-pipa besar, tangki, hingga mesin pengolahan yang menjulang. Dengan lokasi seluas ini, beberapa pekerja kilang membutuhkan sepeda untuk berpindah dari satu area ke area lainnya.

Minyak mentah yang masuk dari SPM kemudian disalurkan lewat jaringan perpipaan ke area Crude Destillation Unit (CDU) tempat minyak mentah pertama kali diolah. Pengolahan berlanjut mulai dari ke area pemisahan minyak dari kandungan-kandungan logam atau Atmospheric Residue Hydrodemetallization Unit (AHU) hingga area pengolahan nafta atau Naphtha Processing Unit (NPU).

Di area Oil Movement (OM) yang merupakan area tangki untuk menyimpan dan mencampur minyak mentah dan produk jadi, tampak dipasang tiang penangkal petir di samping tiap tangki. Menurut Engineer I Offisite PT KPI RU VI Balongan Nanda Tri Wibowo, hal ini untuk menghindari kejadian kebakaran tangki berulang yang pernah terjadi pada 2021.

Untuk diketahui, pada Maret 2021, empat tangki di RU VI Balongan terbakar, berakibat pada 35 korban luka-luka. Tim investigasi yang menyelidiki kebocoran kilang saat itu menyebut penyebabnya adalah sambaran petir yang menyebabkan penipisan tangki yang tinggi. Kebakaran kemudian terjadi akibat sambaran petir berikutnya yang berdampak pada segitiga api (udara oksigen, vapor hydrocarbon, dan sambaran petir).

Produksi BBM rendah sulfur di Kilang Balongan
Produksi BBM rendah sulfur di Kilang Balongan (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/agr)

Produksi BBM Diuji di Laboratorium

Masih dalam komplek kilang, berjarak sekitar 10 menit via kendaraan dari dermaga apung, terletak laboratorium RU VI Balongan yang adalah tempat pengujian semua produk kilang sebelum didistribusikan. Lokasinya persis di seberang control room tempat semua prosedur kerja kilang dipantau dan di seberang area pengolahan propylene.

Aroma gasolin menyengat beberapa kali terhirup di laboratorium yang cenderung kosong karena sedang pergantian shift sore. Di laboratorium ini, terdapat pemeriksaan sekitar 20 parameter untuk tiap produk yang disesuaikan dengan aturan Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sejumlah parameter ttersebut seperti distilasi oksidasi, kandungan sulfur, kandungan air, hingga kandungan bioetanol.

Pemeriksaan tiap parameter dipisah per ruangan. Salah satu ruangan di pojok laboratorium berisi empat mesin bernama Compression Fuel Research (CFR). Seorang petugas laboratorium tampak mengoperasikan sambil menatap layar mesin. Mesin ini bertugas memeriksa angka oktana atau RON produk BBM.

“(Pemeriksaan) termasuk juga yang terkenal itu RON (angka oktana). Jadi karena spesifikasinya ada banyak, kami di sini harus memastikan semua parameter sesuai spesifikasi sehingga produk bisa kita salurkan ke konsumen,” kata Tester 1 CFR & Aviation PT KPI RU VI Balongan Zaeturohmah Febriyanti.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Leoni Susanto

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...