Arsjad Rasjid: Dunia Diselimuti Ketidakpastian, Batas Kawan dan Lawan Kian Kabur

Mela Syaharani
3 Februari 2026, 12:28
Arsjad Rasjid, IES 2026
ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym.
Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menyampaikan paparan saat konferensi pers Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa (26/8/2025). Kegiatan yang mengusung tema Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity tersebut akan berlangsung pada 3-4 Februari 2026 sebagai wadah pertemuan antara pemerintah, akademisi dan pelaku bisnis dalam rangka mendorong kolaborasi strategis untuk pembangunan ekonomi nasional yang lebih inklusif.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, mengatakan situasi dunia saat ini berjalan di atas ketidakpastian. Kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan peluang meluasnya konflik antarnegara membuat pasar komoditas global terguncang.

Arsjad mengatakan tren pembahasan global saat ini menunjukkan perubahan. Tahun-tahun sebelumnya, dunia fokus membahas antisipasi dan pengelolaan sektor lingkungan yang bergejolak. Namun, kondisi dunia saat ini jauh lebih menantang. 

“Dalam satu keputusan, koalisi negara yang terikat nilai bersama dapat didorong ke tepi jurang, menantang perdamaian dan stabilitas global,” kata Arsjad dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026, di Jakarta, Selasa (3/2).

Ia mencontohkan kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS). Menurutnya hal ini mengganggu perdagangan global. Begitu pula besarnya peluang meluasnya konflik antar negara dalam satu malam. Kondisi ini mengirimkan gelombang kejut ke pasar komoditas global.

“Hari ini, garis yang dulunya memisahkan kawan dan lawan dengan jelas menjadi semakin kabur. Ada banyak interpretasi yang seringkali bersaing mengenai tatanan global saat ini,” ujarnya.

Posisi Indonesia di Tatanan Global

Meski begitu, posisi Indonesia di tatanan dunia tergolong beruntung. Indonesia memiliki prinsip politik luar negeri bebas aktif yang sudah sejak lama dipegang teguh.

Selain itu, keberuntungan ini juga diperkuat oleh keterlibatan global proaktif yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Arsjad mengatakan presiden membangun hubungan lintas agama sekaligus memperluas kemitraan melalui berbagai platform internasional. 

Baginya, posisi ini memberikan Indonesia fleksibilitas strategis dan kredibilitas di dunia yang semakin terpecah. 

Kendati demikian, Arsjad mengatakan kondisi ketidakpastian global ini tidak bisa dianggap remeh. Indonesia harus turut andil dalam menerjemahkan modal diplomatik menjadi manfaat ekonomi yang nyata.

Dia menyebut dalam acara IES 2026 akan dibahas serangkaian ide kritis. Pertama, strategi untuk mengejar pertumbuhan yang inklusif di tengah kondisi dunia yang tidak stabil.

Kedua, dibahas juga bagaimana model pertumbuhan nasional yang bergeser dan kebijakan ekonomi global yang lebih transaksional. Ketiga, IES 2026 akan berbicara tentang strategi menghadapi guncangan eksternal secara praktis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...