IAI Respons Program Gentengisasi Prabowo: Material Harus Andal

Kamila Meilina
5 Februari 2026, 11:21
gentengisasi, Prabowo, IAI
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/wsj.
Pekerja menyusun genteng tradisional yang sudah dibakar di Sentral Industri Genteng Sokka, Desa Bantarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (15/12/2020).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto mencanangkan program penggantian atap seng dengan genteng atau gentengisasi. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengatakan pemilihan atap genteng tanah liat atau material ringan, seperti seng dan zincalume tidak bisa ditentukan secara tunggal, melainkan harus berbasis pada konteks wilayah, risiko bencana, serta penilaian siklus hidup material.

Menurut IAI, pemilihan material harus ditempatkan dalam kerangka arsitektur yang komprehensif, mempertimbangkan keandalan bangunan, keselamatan, hingga keberlanjutan lingkungan.

Ketua Umum IAI Georgius Budi Yulianto mengatakan, gagasan Presiden Prabowo Subianto mengenai pemanfaatan genteng tanah liat perlu dilihat secara kontekstual. Genteng disebutnya merupakan bagian dari warisan arsitektur Nusantara yang telah lama beradaptasi dengan iklim tropis dan ketersediaan sumber daya lokal.

“Dari sudut pandang mikroklimatik, genteng tanah liat memiliki kapasitas isolasi termal yang relatif baik sehingga berkontribusi pada kenyamanan ruang di bawahnya. Material ini juga bersumber dari bahan alami dan berpotensi didaur ulang, sehingga kerap dianggap ramah lingkungan,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Kamis (5/2). 

Meski demikian, Georgius mengingatkan klaim keberlanjutan tidak bisa hanya dilihat dari asal bahan. Penilaian harus mencakup seluruh siklus hidup material, mulai dari ekstraksi, produksi, distribusi, hingga akhir masa pakai.

Pada genteng tanah liat, proses produksi memerlukan pembakaran suhu tinggi yang umumnya menggunakan bahan bakar fosil atau biomassa dalam jumlah besar. 

“Proses ini menghasilkan emisi karbon yang tidak kecil. Karena itu, klaim ramah lingkungan perlu dikaji kritis dengan melihat efisiensi teknologi pembakaran dan sumber energi yang digunakan,” ujarnya.

Seng Lebih Ringan, Lebih Aman Saat Gempa

Di sisi lain, material atap ringan seperti seng, zincalume, atau panel polimer memang memiliki jejak karbon awal lebih tinggi akibat proses industri dan ekstraksi mineral. Namun material tersebut menawarkan keunggulan struktural.

Bobotnya yang ringan memungkinkan dimensi rangka bangunan dibuat lebih ramping, transportasi lebih efisien, dan waktu konstruksi lebih cepat. Dalam konteks daerah rawan gempa, pengurangan massa atap dinilai signifikan menurunkan gaya inersia yang bekerja pada bangunan.

“Artinya, keberlanjutan material tidak hanya soal emisi produksi, tetapi juga kontribusinya terhadap efisiensi struktur dan keselamatan penghuni sepanjang umur bangunan,” kata Georgius.

Tidak Semua Wilayah Cocok Genteng

IAI juga mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan keragaman geografis Indonesia. Tidak semua daerah memiliki ketersediaan tanah liat atau industri genteng yang efisien energi. Di sejumlah wilayah, distribusi genteng dari sentra produksi justru dapat meningkatkan jejak karbon akibat transportasi jarak jauh.

Sebaliknya, di kawasan kepulauan, pesisir, atau wilayah dengan risiko gempa dan angin kencang, material atap ringan sering kali lebih rasional, baik dari sisi keselamatan struktural maupun efisiensi logistik.

Menurut Georgius, ada dua prinsip utama dalam pemilihan material atap. Pertama, keandalan bangunan yang mencakup keselamatan, kesehatan penghuni, ketahanan bencana, serta kemudahan pemeliharaan. Kedua, keberlanjutan yang harus dihitung secara holistik melalui pendekatan siklus hidup.

“Material lokal tetap relevan selama didukung proses produksi yang efisien energi dan sesuai karakter risiko wilayah. Tidak ada satu material yang unggul untuk semua tempat,” katanya.

IAI menilai, genteng tanah liat merupakan pilihan tepat pada wilayah dengan bahan baku lokal, teknologi produksi memadai, dan risiko kebencanaan relatif rendah. Namun pada daerah dengan kondisi berbeda, fleksibilitas pemilihan material harus tetap diberikan.

“Pendekatan berbasis keandalan dan penilaian siklus hidup inilah yang sejalan dengan arsitektur berkelanjutan. Arsitek berkewajiban merespons tantangan lingkungan dan keselamatan masyarakat secara rasional dan kontekstual,” kata dia. 



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...