Industri Kaca Terancam Kebijakan Anti-Dumping Vietnam dan Lonjakan Harga Gas
Industri kaca dalam negeri terancam oleh kebijakan bea masuk anti-dumping yang akan diterapkan oleh Vietnam pada 13 Februari mendatang.
Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan Vietnam akan mengenakan pungutan untuk produk kaca lembaran dari Malaysia dan Indonesia. Besaran pungutan yang diberlakukan berkisar antara 15,17% hingga 63,39%. Menurut Yustinus, proses verifikasi dari pihak Vietnam ke pabrik-pabrik kaca di Indonesia saat ini masih berlangsung.
Menurut Yustinus, Vietnam merupakan salah satu pasar ekspor strategis bagi industri kaca Indonesia, ditopang oleh pertumbuhan sektor konstruksi dan manufaktur di negara tersebut. Sayangnya, asosiasi belum memiliki data rinci terkait nilai ekspornya.
"Dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, Vietnam merupakan pasar ekspor yang penting bagi kaca lembaran Indonesia,” katanya.
Ia menjelaskan karakter produk kaca membuat pasar ekspor idealnya tidak terlalu jauh dari pusat produksi di Pulau Jawa. Biaya logistik menjadi faktor krusial karena kaca tergolong barang berat dan mudah pecah. AKLP mendorong dua langkah strategis. Pertama, memperkuat dan memperluas pasar yang sudah ada, termasuk meningkatkan produksi kaca bernilai tambah tinggi seperti kaca hemat energi untuk mendukung dekarbonisasi sektor properti.
“Kedua, mencari pasar baru meski di tengah ketidakpastian perdagangan global,” ujarnya.
Persoalan utama lain yang dihadapi produsen adalah lonjakan biaya energi. Yustinus menyebut porsi biaya gas bumi terhadap total biaya produksi industri kaca berada pada kisaran 15%–25%. Selain itu, Yustinus juga mengeluhkan pasokan harga gas bumi tertentu (HGBT) yang terbatas. Akibatnya, industri terpaksa beralih ke gas hasil regasifikasi LNG dengan harga mencapai US$ 15 per MMBTU, jauh lebih mahal dibanding harga gas khusus industri.
“Bila volume dan tekanan gas turun, pabrik terpaksa menggunakan BBM industri. Dual combustion ini sangat merepotkan karena harus menyiapkan cadangan BBM dengan lahan luas dan pengamanan ketat, serta berdampak pada peningkatan emisi karbon,” ujarnya.
Di sisi lain, kapasitas terpasang industri kaca lembaran nasional mencapai 2,6 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik hanya sekitar 0,8 juta ton atau 31%. Artinya, terdapat potensi ekspor hingga 1,8 juta ton atau 69% dari kapasitas.
“Ini potensi ekspor yang sangat besar, tetapi perlu daya saing yang kuat dan stabil agar bisa bersaing di tengah gejolak perdagangan dan geopolitik global,” kata Yustinus.
“
