Marak Fenomena Rojali, Ritel Optimistis Belanja Lebaran Naik 15% dari Tahun Lalu

Kamila Meilina
13 Februari 2026, 17:49
Sejumlah warga mengunjungi pusat perbelanjaan Bintaro Jaya Xchange, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (29/3/2024). Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mendorong pemerintah agar membatalkan rencana kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menja
ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa.
Sejumlah warga mengunjungi pusat perbelanjaan Bintaro Jaya Xchange, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (29/3/2024). Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mendorong pemerintah agar membatalkan rencana kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen karena dinilai berdampak pada kenaikan harga produk industri retail dan akan menurunkan daya beli masyarakat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menargetkan nilai transaksi ritel selama periode Lebaran 2026 dapat menembus lebih dari Rp 50 triliun. Target itu didorong berbagai program promosi serta kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah.

Ketua Umum Hippindo Fetty Kwartati, mengatakan salah satu program yang mendongkrak pemenuhan target itu adalah kolaborasi antara pemerintah dengan pengusaha mal dalam program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026. 

“Untuk target penjualan program BINA Lebaran ini sekitar Rp 50 triliun lebih. Diprediksi meningkat 10–15% dari tahun sebelumnya karena kolaborasi antar kementerian, pengusaha, dan pemerintah,” ujarnya di Jakarta Selatan, Jumat (13/2).

Menurut dia, momentum Ramadan dan Lebaran secara historis memang menjadi pendorong konsumsi rumah tangga. Selain faktor tunjangan hari raya (THR), peningkatan aktivitas seperti buka puasa bersama turut mengerek belanja masyarakat.

Dari sisi pusat perbelanjaan, target yang dibidik mencakup dua indikator utama, yakni nilai transaksi dan jumlah kunjungan (traffic).

Ketua Bidang Promosi Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sekaligus General Manager Kota Kasablanka, Agung Gunawan, mengatakan kenaikan transaksi selama Ramadan diproyeksikan mencapai 10–15%.

“Pertimbangannya, saat Ramadan frekuensi makan meningkat, ada buka puasa bersama, ditambah program midnight sale dan momentum THR,” katanya.

Sementara dari sisi traffic, kunjungan ke mal biasanya meningkat sekitar 20% dibandingkan periode normal.

Fenomena ‘Rojali’ Dinilai Tak Signifikan

Terkait fenomena “Rojali” atau rombongan jarang beli, Agung menilai hal tersebut bukanlah tren baru. Istilah tersebut, kata dia, sebelumnya dikenal sebagai window shopping.

“Fenomena itu sudah lama ada di mal, cuma baru terangkat sekarang saja. Tidak semua orang yang datang ke mal memang harus berbelanja. Ada yang meeting, ngopi, atau makan dan minum,” katanya.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kinerja transaksi karena pusat perbelanjaan memang menjadi ruang aktivitas sosial sekaligus komersial.

Ia mencontohkan kinerja Kota Kasablanka dalam tiga tahun terakhir. Pada periode 2023 ke 2024 terjadi kenaikan cukup tinggi, sedangkan 2024 ke 2025 cenderung lebih statis, namun tetap mencatat pertumbuhan.

Untuk Januari 2026, transaksi pelanggan di Kota Kasablanka bahkan tercatat naik 3%.

Selain itu, tingginya minat peritel membuka gerai baru juga menjadi indikator optimisme. Ia menyebut daftar tunggu (waiting list) tenant di sejumlah mal bahkan bisa mencapai tiga tahun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...