Pengusaha Logistik Jamin Jasa Pengiriman Kurir Tak Terhambat Pembatasan Angkutan
Pelaku industri logistik memastikan layanan pengiriman kurir tetap berjalan normal meski pemerintah memberlakukan pembatasan operasional angkutan barang selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026 pada 13–29 Maret 2026.
Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi, mengatakan operasional perusahaan tetap mengacu pada Service Level Agreement (SLA) yang telah ditetapkan dan tidak mengalami gangguan berarti.
“Sebagai perusahaan logistik nasional dengan lebih dari 8.000 titik layanan di seluruh Indonesia, JNE berkomitmen menghadirkan layanan optimal bagi pelanggan. Hingga saat ini, operasional pengiriman tetap berjalan normal,” ujar Eri kepada Katadata.co.id, Jumat (27/2).
Untuk mengantisipasi kebijakan pembatasan angkutan barang, JNE menerapkan strategi distribusi terintegrasi dengan mengoptimalkan jalur udara, darat, dan laut. Strategi ini dinilai memberi fleksibilitas dalam pengaturan distribusi sehingga pengiriman tetap efektif meski ada pembatasan di jalur tertentu.
Kesiapan tersebut didukung oleh lebih dari 11.000 armada milik sendiri, mulai dari sepeda motor hingga truk besar, guna memastikan kelancaran proses pengiriman dari first mile hingga last mile.
JNE juga mengoptimalkan Mega Hub seluas 4 hektare di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang dilengkapi teknologi Automatic Sorting Center untuk mempercepat proses sortir dan distribusi, terutama di tengah potensi lonjakan volume selama Ramadan dan Lebaran.
Dari sisi proyeksi bisnis, JNE memperkirakan volume pengiriman selama Ramadan 2026 tumbuh sekitar 20% hingga 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong tingginya aktivitas belanja masyarakat pada sektor fesyen, makanan dan minuman, serta kebutuhan rumah tangga.
Siapkan Langkah Antisipatif
Komisaris J&T Express Iwan Senjaya mengatakan pihaknya mengikuti seluruh kebijakan pemerintah terkait pembatasan angkutan barang selama arus mudik dan arus balik Idulfitri.
Menurutnya, J&T telah menyiapkan langkah antisipatif melalui perencanaan operasional yang lebih terintegrasi, termasuk penyesuaian jadwal line-haul dan distribusi antarkota sebelum periode pembatasan diberlakukan.
Perusahaan juga melakukan percepatan pengiriman pada rute dengan potensi kepadatan tinggi serta memperkuat sistem monitoring real-time untuk menjaga visibilitas pergerakan barang.
“Pembatasan angkutan merupakan pola musiman yang sudah dapat diproyeksikan setiap tahun. Berdasarkan tren sebelumnya, puncak lonjakan pengiriman biasanya terjadi sebelum masa libur panjang Lebaran, saat pembatasan belum diberlakukan,” ujarnya kepada Katadata.co.id, dikutip Jumat (27/2).
Ia optimistis dampak terhadap biaya logistik dapat ditekan melalui perencanaan kapasitas yang komprehensif, sehingga proses pengiriman tetap lancar meski terdapat periode pembatasan. J&T juga memperkirakan volume pengiriman Ramadan tahun ini akan melampaui rata-rata pengiriman harian.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Budiyanto Darmastono menyatakan anggota asosiasi telah terbiasa menghadapi pola pembatasan tahunan.
“Secara umum kami siap, dengan tetap mengantisipasi lonjakan volume dan potensi kepadatan lalu lintas,” kata Budiyanto kepada Katadata.co.id, Rabu (25/2).
Strategi yang ditempuh anggota ASPERINDO antara lain percepatan pengiriman sebelum masa pembatasan, penyesuaian jadwal distribusi, optimalisasi armada yang tidak terdampak, serta koordinasi intensif dengan pelanggan.
Budiyanto menjelaskan, pembatasan operasional pada 13–29 Maret 2026 berlaku untuk kendaraan sumbu tiga ke atas. Sementara mayoritas armada anggota ASPERINDO menggunakan kendaraan sumbu tiga ke bawah, sehingga dampaknya relatif terbatas terhadap layanan kurir dan distribusi ritel.
