Pengusaha Logistik Soroti Konflik Iran-AS, Ongkos Kapal dan Pesawat Bisa Naik
Pengusaha logistik menyoroti meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dinilai berpotensi membuat ongkos pengiriman barang melalui laut (sea freight) dan udara (air freight) melonjak.
Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, mencermati potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak mentah dunia.
Menurutnya, konflik yang meluas dapat menghambat bahkan memutus jalur distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global. Sebagian besar pengangkutan minyak mentah dari kawasan tersebut selama ini melewati Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman.
“Dampaknya tentu ke biaya transportasi, baik kapal laut (sea freight) maupun pesawat (air freight),” ujar Trismawan kepada Katadata.co.id, Selasa (3/3).
Ia mengatakan, kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan pelayaran dan maskapai kargo. Selain itu, risiko keamanan di wilayah konflik berpotensi meningkatkan premi asuransi pengiriman barang, termasuk tambahan biaya risiko perang (war risk surcharge).
ALFI juga mencermati kemungkinan pengalihan rute kapal akibat meningkatnya risiko di kawasan Timur Tengah. Jika kapal harus memutar melalui jalur yang lebih jauh, waktu pengiriman dapat bertambah hingga 15–20 hari dan biaya operasional ikut meningkat.
Di sektor udara, sejumlah penerbangan dari negara-negara terdampak konflik dilaporkan membatalkan jadwal penerbangan demi alasan keselamatan, yang berpotensi mengganggu arus logistik global.
Trismawan menambahkan, kelangkaan peti kemas dan kenaikan biaya freight serta premi asuransi dapat mengganggu stabilitas rantai pasok nasional. Jika konflik berlangsung lama, biaya logistik global diperkirakan dapat naik lebih dari 30% dibandingkan periode sebelum eskalasi.
“Bahkan di beberapa rute, kenaikan freight bisa mencapai 45–58%,” kata dia.
Gangguan Distribusi Energi Bisa Memicu Kenaikan Harga Komoditas dan Bahan Baku
ALFI menilai, gangguan distribusi energi global dapat memicu kenaikan harga komoditas dan bahan baku industri. Indonesia sebagai negara berkembang yang masih mengandalkan impor bahan baku dinilai rentan terdampak.
“Kalau energi terganggu, efeknya berantai. Ongkos produksi naik, biaya distribusi naik, dan bisa memicu inflasi,” kata Trismawan.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan tersebut, ALFI mendorong pemerintah mempercepat upaya kemandirian pangan dan energi serta penguatan industri hilir dalam negeri.
Menurutnya, ketergantungan pada impor bahan baku membuat Indonesia lebih rentan terhadap gejolak global. Diversifikasi pasar ekspor dan perluasan produk hilirisasi juga dinilai penting agar Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat.
Di sisi lain, efisiensi logistik domestik tetap menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah dinilai perlu terus menekan biaya logistik dalam negeri, termasuk memberantas pungutan liar dan menyederhanakan regulasi agar daya saing usaha tetap terjaga.
