APINDO: Konflik Iran–AS Bisa Tekan Bisnis Lewat Lonjakan Energi hingga Inflasi

Kamila Meilina
3 Maret 2026, 13:55
APINDO, inflasi, energi
Katadata/Rahayu Subekti
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang melibatkan Israel berpotensi menekan dunia usaha nasional, terutama melalui lonjakan harga energi dan risiko inflasi pangan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang melibatkan Israel berpotensi menekan dunia usaha nasional, terutama melalui lonjakan harga energi dan risiko inflasi pangan.

Ketua APINDO, Shinta W. Kamdani, mengatakan risiko utama tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari potensi gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan global.

“Risiko terbesar ada pada potensi gangguan di kawasan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu bottleneck perdagangan energi dunia. Sekitar 20% minyak dunia melewati wilayah tersebut,” ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Selasa (3/3). 

Ia menjelaskan, bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian geopolitik sudah cukup untuk meningkatkan risk premium atau premi risiko harga minyak dan gas, sekaligus mendorong kenaikan biaya logistik internasional. Kondisi ini menjadi perhatian serius pelaku usaha.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai rentan terhadap lonjakan harga energi global. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya produksi industri dan mempersempit ruang fiskal pemerintah apabila harga energi melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Harga bahan pokok juga diprediksi akan mengalami kenaikan. Jika harga energi naik, biaya distribusi dan transportasi pangan ikut meningkat. Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa mempercepat inflasi pangan, apalagi jika disertai gangguan pasokan global atau pelemahan rupiah.

“Efek tidak langsung melalui harga energi dan distribusi pangan menjadi faktor yang jauh lebih relevan bagi dunia usaha dibandingkan hubungan dagang langsung dengan Iran atau Israel,” kata Shinta.

Beban Subsidi Pemerintah Berpotensi Membengkak

Jika harga energi bertahan tinggi, beban subsidi pemerintah bisa meningkat dan menekan anggaran negara. Ia meminta pemerintah tetap disiplin mengelola defisit dan utang agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

Selain itu, situasi global yang tidak pasti bisa membuat nilai tukar rupiah lebih bergejolak. Pelemahan rupiah akan membuat impor energi dan pangan menjadi lebih mahal.

APINDO menilai sektor yang paling rentan adalah industri yang bergantung pada energi dan logistik internasional, termasuk sektor padat karya yang memiliki margin tipis.

Dalam jangka pendek, pelaku usaha mengedepankan langkah mitigasi yang realistis dan adaptif, mulai dari penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan eksposur valas secara lebih disiplin, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai.

“Pendekatannya saat ini wait and see, tetapi tetap prepared jika tekanan global berlanjut,” ujar Shinta.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...