30% Toko Kelontong Disebut Gulung Tikar karena Minimarket, Ini Respons Mendag
Menteri Perdagangan Budi Santoso membantah anggapan bahwa kehadiran minimarket seperti Alfamart dan Indomaret menyebabkan usaha toko kelontong mengalami penyusutan. Menurutnya, pemerintah justru telah mendorong pola kemitraan antara jaringan ritel modern dan pelaku usaha kecil sejak beberapa tahun lalu.
Ia menjelaskan, pola kemitraan tersebut sudah berjalan sejak sekitar 2015. Dalam skema tersebut, distributor dari jaringan minimarket memasok barang ke toko kelontong sehingga usaha kecil tetap mendapatkan akses distribusi yang lebih luas.
“Kerja samanya antara distributor Alfamart dan Indomaret dengan toko kelontong, jadi mereka bisa memasok barang ke toko-toko kecil,” ujar Mendag yang akrab disebut Busan, di kantornya Kamis (5/3).
Ia menambahkan, program tersebut hingga kini masih terus berjalan dan bahkan diperluas. Jika sebelumnya fokus pada distribusi barang, kini kerja sama juga diarahkan untuk membantu pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Sekarang tidak sekadar memasok barang, tetapi juga bagaimana memasarkan produk-produk UMKM. Jadi sebenarnya pola kemitraan dengan UMKM ini sudah berjalan cukup lama,” katanya.
Menanggapi keluhan sebagian pedagang kaki lima atau toko kecil yang merasa penjualannya menurun akibat kehadiran minimarket, Mendag mengatakan selama ini program kemitraan tersebut tidak menimbulkan persoalan besar di lapangan.
Selain itu, pemerintah juga terus memantau kondisi pasar domestik. Berdasarkan hasil survei di sejumlah pasar, ia menyebut harga kebutuhan pokok relatif stabil dan pasokan barang cukup tersedia.
“Dari survei yang kami lakukan di pasar, pedagang menyampaikan harga stabil dan pasokan cukup. Bahkan pembeli juga mulai meningkat,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Pemerintah juga menyiapkan sejumlah program untuk mendorong konsumsi domestik.
Salah satunya melalui program belanja produk dalam negeri bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO). Program tersebut akan menghadirkan berbagai diskon produk di pusat perbelanjaan, mal, dan department store menjelang Lebaran.
Ia berharap berbagai langkah tersebut dapat memperkuat pasar domestik sekaligus mendorong penjualan produk UMKM di dalam negeri.
Sebelumnya, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) mencatat jumlah warung kelontong di seluruh Indonesia terus menyusut, yang hingga akhir 2025, tersisa sekitar 3,9 juta unit.
Ketua Umum APKLI Ali Mahsun, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan angka ini menurun drastis dari 6,1 juta pada 2007, yang berarti lebih dari 2,2 juta warung kelontong gulung tikar akibat pesatnya ekspansi ritel modern dan kebijakan perizinan yang lebih longgar.
Dalam audiensi dengan Menteri Koperasi Ferry Juliantono di Jakarta, Kamis (26/2), Ali menegaskan bahwa kebijakan ritel modern tidak boleh mengorbankan keberadaan usaha rakyat.
APKLI mengusulkan penerapan peraturan pemerintah tentang penataan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern diperkuat kembali.
