Harga Minyak Tembus US$ 110, Industri Petrokimia Ubah Strategi Produksi
Industri petrokimia nasional mulai menghitung ulang strategi produksi menyusul lonjakan harga minyak dunia yang menembus level US$ 110 per barel. Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi jalur distribusi energi global.
Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, konflik Israel–Iran berdampak langsung pada distribusi bahan baku industri plastik, khususnya nafta yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
“Sekitar 70% pasokan kita berasal dari kawasan itu, sehingga sekarang tidak bisa dikirim ke sini,” kata Fajar kepada Katadata.co.id, Senin (9/3).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan petrokimia di berbagai negara mulai menghentikan sementara penjualan produk sambil menghitung ulang strategi bisnis. Langkah ini juga dilakukan untuk menghindari spekulasi harga di tengah ketidakpastian pasar.
Ia menyebutkan penghentian penjualan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dilakukan oleh perusahaan di Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.
“Beberapa perusahaan sudah menyatakan force majeure dan sementara tidak menjual produk sambil menghitung ulang strategi mereka, apakah ini akan berlangsung jangka pendek atau panjang,” ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga mulai mendorong kenaikan harga bahan baku plastik. Dalam sepekan terakhir, harga resin plastik tercatat naik sekitar US$ 150 hingga US$ 200 per ton.
Sebelumnya, harga bahan baku plastik berada di kisaran US$ 900 per ton. Namun, kini harganya mulai bergerak naik ke level US$ 1.000 hingga US$ 1.100 per ton, bahkan berpotensi berubah setiap hari mengikuti pergerakan harga minyak global.
“Perubahan harga ini bisa terjadi setiap hari karena sangat bergantung pada harga minyak dunia,” kata Fajar.
Meski demikian, ia memastikan pasokan produk plastik untuk kebutuhan Lebaran masih relatif aman karena industri telah menyiapkan stok sejak sebulan sebelumnya. Tantangan justru diperkirakan muncul setelah periode Lebaran jika gangguan pasokan bahan baku masih berlanjut.
Ia juga memperkirakan proses pemulihan pasokan bahan baku tidak akan berlangsung cepat. Bahkan jika jalur distribusi di Selat Hormuz kembali dibuka, industri membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk memulihkan kembali rantai pasok yang terganggu.
“Kondisi pabrik-pabrik di kawasan konflik juga banyak yang terdampak. Recovery-nya bisa memakan waktu sekitar enam bulan,” katanya.
Industri Petrokimia Mulai Nyatakan Force Majeure
Sebelumnya, produsen hulu petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah lebih dahulu mengumumkan status force majeure kepada mitra usaha lantaran terganggunya kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok di Selat Hormuz.
Sebagai langkah mitigasi, TPIA menyatakan akan mengurangi operasional (run rates) di fasilitas produksi.
Manajemen TPIA mengatakan status terbaru ditetapkan berdasarkan ketentuan kontraktual yang berlaku. Penyampaian ini disebut merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur.
“Berdasarkan kajian menyeluruh atas potensi implikasi terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, serta sebagai bentuk transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan,” kata manajemen TPIA dalam keterangan terbaru, yang dikutip Rabu (4/3).
