Pengusaha Sebut Ekspor CPO Masih Aman dari Dampak Konflik Iran-AS

Andi M. Arief
13 Maret 2026, 15:22
cpo, sawit, ekspor
ANTARA FOTO/Akbar Tado/nym.
Pekerja memindahkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke atas bak mobil di Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Jumat (19/12/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki menyatakan perang Iran-AS tidak terlalu berdampak pada kinerja ekspor minyak sawit mentah. Alasan mereka, 90% produk CPO yang diekspor sudah dalam bentuk setengah jadi.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan mayoritas produk CPO yang diekspor digunakan untuk kebutuhan pangan. Mayoritas bentuk CPO yang dikirim adalah refined, bleached, deodorized palm oil atau barang setengah jadi minyak goreng.

"Ada juga yang diekspor dalam bentuk olein atau minyak goreng, seperti ekspor ke Amerika Serikat. Jadi, mereka tidak memiliki industri yang memproses CPO di negara tujuan ekspor," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3).

Perang Iran-AS telah menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20% kebutuhan minyak mentah dunia. Hal tersebut membuat kebutuhan energi untuk sektor manufaktur juga tersendat.

Eddy menjelaskan importir CPO Indonesia hanya perlu melakukan pengemasan sebelum produk sampai ke konsumen asing. Walau demikian, Eddy menyampaikan dampak perang Iran-AS yang dirasakan adalah melonjaknya biaya logistik dalam proses ekspor.

Ini karena menipisnya pasokan minyak mentah berkorelasi langsung dengan meningkatnya harga bahan bakar yang digunakan kapal untuk ekspor. Selain itu, kondisi perang membuat biaya premi asuransi tumbuh karena pelayaran dinilai sebagai kegiatan berisiko.

Pada saat yang sama, harga CPO di pasar global masih belum tinggi jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Menurutnya, harga CPO masih lebih rendah dari minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Akan tetapi, Eddy memprediksi harga CPO dapat menembus US$1.300 per ton lebih cepat dari perkiraan pada Juni 2026. "Kenaikan harga CPO saat ini tidak setinggi bahan bakar karena konsumen asing tidak melakukan panic buying pada CPO," katanya.

Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan, harga CPO di pelabuhan Indonesia senilai US$1.151 per ton. Angka tersebut melonjak menjadi US$1.433 per ton saat tiba di Rotterdam, Belanda setelah ditambah biaya logistik dan asuransi.

Guru Besar Departemen Agribisnis IPB University Bayu Krisnamurthi mendorong pemerintah untuk menggenjot ekspor CPO selama perang di Timur Tengah. Hal tersebut penting agar Indonesia dapat memanfaatkan konflik tersebut.

Bayu menjelaskan ekspor sawit memiliki kontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan nasional. Sebab, surplus neraca perdagangan CPO tahun lalu senilai US$41 miliar, sedangkan surplus neraca perdagangan komoditas nonmigas mencapai US$60 miliar.

"Dalam keadaan krisis seperti ini, pemerintah sebaiknya menambah ekspor sawit," kata Bayu beberapa waktu lalu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...