Permintaan CPO Indonesia Turun di Tengah Perang AS-Iran, Harga Minyakita Stabil
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan minyak goreng Minyakita tidak terpengaruh adanya perang Timur Tengah. Hingga saat ini, belum ada sinyal kenaikan harga dari produk subsidi tersebut.
Perang di Timur Tengah telah berlangsung sejak Sabtu (28/2). Konflik yang melibatkan tiga negara yakni Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) ini telah menutup jalur perdagangan vital, yakni Selat Hormuz. Rute ini menghubungkan perdagangan negara-negara di Teluk Persia ke pasar global
“Tidak (ada pengaruh), selama ini belum ada kenaikan,” kata Budi saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jumat (13/3).
Menurut Budi kondisi harga minyak goreng dalam negeri justru cenderung menurun. Berdasarkan pengamatannya harga Minyakita mencapai Rp 15.800 per liter. Dengan data tersebut, menurutnya belum ada potensi harga Minyakita bisa melonjak atau melebihi Rp 20.000 per liter.
Tak hanya minyak, Budi juga berbicara terkait nasib komoditas perdagangan lain di Teluk Persia. Dia menyebut ada beberapa ekspor komoditas ke Timur Tengah yang terganggu, meskipun angka permintaan dari Timur Tengah tidak turun.
“Yang naik itu biaya angkutnya. Kita tetap ekspor,” ujarnya.
Pengusaha sebut Permintaan Turun
Berbeda dengan Budi, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sebelumnya menyebut terjadi penurunan permintaan terhadap komoditas sawit Indonesia. Hal ini terjadi imbas kenaikan biaya logistik 50% seiring dengan terjadinya perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“(Permintaan turun) karena biayanya tinggi. Saat ini ekspor yang berjalan untuk memenuhi kontrak-kontrak yang sudah tanda tangan, untuk kontrak baru terjadi sedikit penurunan kecuali dibutuhkan sekali,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono saat ditemui di Kementerian Pertanian, Rabu (11/3).
Dia menyebut Gapki masih menunggu hingga akhir Maret untuk menghitung berapa penurunan ekspor kelapa sawit yang terjadi imbas eskalasi Timur Tengah. “Mungkin akan ketahuan akhir bulan ini berapa persen penurunannya,” katanya.
Eddy menyebut kondisi perang ini membuat Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab perang tidak bisa dihentikan. Meski begitu, kegiatan ekspor masih bisa berjalan dengan risiko rute memutar, hal ini menyebabkan kenaikan biaya logistik, bahan bakar kapal, serta asuransi.
Dia mencontohkan salah satu perputaran rute dilakukan melalui Cape Town, Afrika atau Terusan Suez untuk pasokan ke negara-negara Eropa. “Minyak sawit mentah (CPO) adalah kebutuhan mereka sehari-hari, jadi harus tetap harus membeli,” ujarnya.
