Industri Pupuk Antisipasi Dampak Perang, Amankan Stok Bahan Baku Hingga 6 Bulan
Industri pupuk nasional mulai mengantisipasi potensi dampak kenaikan harga energi global akibat konflik Amerika Serikat dan Iran dengan mengamankan pasokan bahan baku pupuk untuk beberapa bulan ke depan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan kenaikan harga minyak global hingga saat ini belum berdampak langsung terhadap biaya produksi pupuk nasional. Meski demikian, industri pupuk tetap mengantisipasi dampak tidak langsung, terutama pada biaya distribusi dan logistik.
“Bahan baku utama pembuatan pupuk adalah gas bumi untuk pupuk urea, serta fosfat dan kalium untuk pupuk NPK. Namun fluktuasi harga minyak berpotensi dapat berdampak terhadap distribusi dan biaya logistik,” kata Rahmad kepada Katadata.co.id, dikutip Rabu (25/3).
Ia menjelaskan, produksi pupuk urea nasional masih aman karena bahan baku gas bumi berasal dari dalam negeri dan pasokan serta harganya diatur pemerintah. Selain itu, kapasitas produksi pupuk urea dalam negeri juga mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, sehingga konflik di Timur Tengah maupun gangguan jalur perdagangan global tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.
Sementara itu, untuk pupuk NPK, bahan baku fosfat diperoleh dari negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sedangkan kalium dipasok dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah.
Amankan Stok 6 Bulan ke Depan
Untuk menjaga stabilitas pasokan pupuk, Pupuk Indonesia disebutnya telah mengamankan bahan baku, terutama fosfat dan kalium, untuk kebutuhan hingga enam bulan ke depan.
“Pupuk Indonesia juga terus mengoptimalkan kapasitas produksi pupuk yang mencapai 14,8 juta ton per tahun,” kata dia.
Terkait harga pupuk, saat ini petani masih menggunakan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) subsidi dari pemerintah. Sejak Oktober 2025, HET pupuk subsidi turun sebesar 20% yang berasal dari efisiensi dan revitalisasi pabrik pupuk sesuai kebijakan pemerintah.
Ia mengatakan, perusahaan akan terus memantau perkembangan harga energi global dan kondisi geopolitik, namun tetap berkomitmen menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani guna mendukung program swasembada pangan nasional.
