Perang Timur Tengah Picu Kenaikan Bahan Baku Polyester untuk Industri Tekstil
Perang di Timur Tengah mulai berdampak pada industri tekstil nasional, terutama dari sisi bahan baku polyester yang berkaitan langsung dengan harga minyak dunia. Pelaku industri tekstil mengaku mulai mewaspadai dampak perang terhadap biaya produksi dan logistik.
Government Relation Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Geraldi Halomoan, mengatakan konflik di Timur Tengah berpengaruh terhadap impor bahan baku tekstil, khususnya polyester yang merupakan salah satu bahan baku utama industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Menurutnya, polyester berasal dari rantai bahan baku petrokimia yang berhubungan langsung dengan minyak bumi, sehingga ketika harga minyak naik akibat konflik geopolitik, harga polyester juga ikut meningkat.
“Bahan baku yang dimaksud adalah polyester. Polyester itu berasal dari campuran PET dan MEG, di mana PET itu dari PX dan PX ini dari minyak bumi. Kalau misalnya minyak bumi harganya naik karena perang di Timur Tengah, otomatis harga polyester di dalam negeri juga akan meningkat,” ujar Geraldi, ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (30/3).
PET atau polyethylene terephthalate adalah jenis plastik polimer bening yang kuat dan ringan. Adapun MEG atau monoethylene glycol adalah senyawa kimia cair tak berwarna yang digunakan sebagai bahan baku serat polyester.
Ia menjelaskan, kebutuhan polyester di industri tekstil sangat besar karena sebagian besar produk tekstil menggunakan campuran polyester, baik untuk pakaian jadi maupun bahan kain campuran dengan kapas dan rayon.
Sektor TPT dalam Kondisi Waspada
Meski belum dapat menghitung secara pasti besaran dampak konflik terhadap kinerja industri tekstil nasional, pelaku industri menyatakan seluruh sektor TPT kini dalam posisi waspada karena dampak perang bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak langsung terutama berasal dari kenaikan harga bahan baku, sementara dampak tidak langsung berasal dari kenaikan biaya energi dan logistik yang berpengaruh terhadap produksi dan distribusi barang.
“Dengan adanya perang di Timur Tengah ini seluruh pelaku usaha TPT itu waspada. Dampaknya bisa langsung dari bahan baku, tapi juga tidak langsung seperti logistik. Untuk menggerakkan logistik kan kita butuh bensin dan energi, itu akan sangat mengganggu kinerja dan produktivitas di Indonesia,” kata dia.
Ia menambahkan, pelaku industri tekstil sebenarnya sudah memiliki pengalaman menghadapi situasi serupa saat perang Rusia–Ukraina, sehingga konflik geopolitik global selalu menjadi faktor risiko bagi industri tekstil yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku impor.
Ekspor ke Timur Tengah Ikut Terdampak
Selain bahan baku dan logistik, konflik Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi ekspor tekstil Indonesia ke kawasan tersebut, meskipun volumenya tidak terlalu besar.
Dampak utama terhadap ekspor adalah kenaikan biaya pengiriman (freight), asuransi, serta perubahan rute pengiriman akibat kondisi keamanan di kawasan konflik.
“Kita memang ada ekspor ke Timur Tengah walaupun produknya tidak banyak. Tapi biasanya akan ada peningkatan harga freight, logistik, asuransi, karena dampaknya perang. Belum lagi pemutaran rute pengiriman,” katanya.
