Penerapan B50 Berpotensi Pangkas 3 Juta Ton Ekspor CPO

Kamila Meilina
31 Maret 2026, 12:41
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Kementerian ESDM mencatat bahwa selama periode 2020-2025, pelaksanaan program biodiesel telah membantu Indonesia m
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Kementerian ESDM mencatat bahwa selama periode 2020-2025, pelaksanaan program biodiesel telah membantu Indonesia menghemat devisa negara sebesar 40,71 miliar dolar AS karena berkurangnya impor solar.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto menargetkan akan meningkatkan bauran bahan bakar nabati (BBN) biodiesel menjadi 50% tahun ini. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai implementasi program biodiesel B50 berpotensi mengurangi ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia apabila produksi nasional tidak meningkat.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, dari sisi bahan baku sebenarnya mencukupi untuk menjalankan program B50, namun konsekuensinya adalah berkurangnya volume ekspor CPO Indonesia.

Menurut Eddy, produksi CPO Indonesia saat ini masih cenderung stagnan sehingga peningkatan konsumsi domestik akan berdampak langsung terhadap ekspor.

“Kalau akan dinaikkan menjadi B50 yang paling memungkinkan ekspor yang dikurangi. Agar semuanya berjalan baik ekspor maupun konsumsi dalam negeri, sebaiknya produksi dinaikkan terlebih dahulu,” ujar Eddy kepada Katadata.co.id, Selasa (31/3). 

Ia memperkirakan implementasi B50 dapat mengurangi ekspor CPO sekitar 3 juta ton per tahun apabila produksi tidak meningkat.

Program Biodiesel B50 merupakan kebijakan energi yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit hingga 50% dalam solar. Program ini bertujuan mengurangi impor bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan penggunaan energi terbarukan berbasis sawit.

Melansir laman resmi GAPKI, dalam lima tahun terakhir, produksi CPO di Indonesia tercatat relatif stagnan, yakni berada pada kisaran 48 juta ton hingga 51 juta ton per tahun. Di sisi lain, konsumsi CPO dalam negeri terus meningkat, terutama sejak diberlakukan mandatori biodiesel. 

Pada 2023 ketika CPO biodiesel dalam program B40 diterapkan, tercatat konsumsi mencapai lebih dari 12 juta ton. 

Dalam skema terbaru, menurut Eddy kebutuhan bahan baku CPO untuk program B50 diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton per tahun. Kebutuhan tersebut bergantung pada konsumsi solar nasional, sebab biodiesel digunakan sebagai pengganti sekitar 50% dari total konsumsi solar.

“B50 hanya untuk pengganti solar, tinggal kebutuhan solar berapa, 50% digantikan oleh biosolar,” kata Eddy.

GAPKI menilai secara industri, pengurangan ekspor tidak akan mengurangi keuntungan perusahaan sawit secara signifikan karena penyerapan dalam negeri tetap tinggi. Namun, dampaknya akan terasa pada penerimaan devisa negara dari ekspor CPO.

Penurunan ekspor juga berpotensi memengaruhi penerimaan negara dari pungutan ekspor (export levy). Selama ini, dana pungutan ekspor tersebut digunakan untuk mendukung subsidi program biodiesel.  

“Meski dari sisi keuntungan tidak berkurang, devisa negara yang berkurang,” ujarnya.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...