PMI Manufaktur RI Melemah, Produksi Turun Paling Tajam dalam 9 Bulan

Kamila Meilina
1 April 2026, 10:13
manufaktur, PMI
ANTARA FOTO/Maulana Surya/agr
Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil (Sari Warna) Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/7/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan pada akhir kuartal I-2026, seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan bahan baku dan harga material. 

Laporan S&P Global menunjukkan penurunan output dan pesanan baru kembali terjadi pada Maret, setelah sebelumnya sempat meningkat pada Februari. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat turun menjadi 50,1 pada Maret 2026 dari 53,8 pada Februari. 

Berdasarkan laporan PMI, perang di Timur Tengah berdampak pada harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian mengganggu produksi serta permintaan barang manufaktur. Kondisi ini juga menyebabkan perlambatan aktivitas pembelian, penurunan tumpukan pekerjaan, serta penyesuaian tenaga kerja di sektor manufaktur.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan penurunan output manufaktur pada Maret menjadi yang paling tajam dalam sembilan bulan terakhir.

“Data survei bulan Maret menunjukkan penurunan output dan penerimaan pesanan baru di sektor manufaktur Indonesia kembali terjadi, dengan penurunan output tercatat paling tajam dalam sembilan bulan,” ujarnya dalam laporan PMI Maret 2026, dikutip Rabu (1/4). 

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama penurunan kinerja manufaktur pada akhir triwulan pertama 2026 adalah pecahnya perang di Timur Tengah yang menekan harga dan pasokan bahan baku. Selain itu, laporan juga mencatat keterlambatan pengiriman bahan baku yang menjadi paling tajam sejak Oktober 2021 akibat kelangkaan material dan gangguan rantai pasok global.

Dari sisi harga, inflasi harga input meningkat dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2024, sehingga biaya output naik pada laju tercepat sejak Juni 2022 karena perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya produksi ke harga jual.

Sejalan dengan melemahnya produksi dan permintaan, perusahaan manufaktur juga menurunkan aktivitas pembelian serta mengurangi tenaga kerja meskipun dalam skala terbatas.

Meski demikian, pelaku industri manufaktur masih menunjukkan optimisme terhadap produksi dalam satu tahun ke depan, dengan harapan permintaan akan kembali membaik dan tidak terjadi eskalasi lebih lanjut dari konflik di Timur Tengah.

“Perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun,” kata Bhatti. 



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...