Lotte Chemical Indonesia Minta Tarif 0% Bagi Impor LPG untuk Bahan Baku
Lotte Chemical Indonesia (LCI) meminta pemerintah menurunkan tarif impor hingga 0% untuk liquified petroleum gas (LPG). Saat ini tarif impor LPG sebagai bahan baku diberlakukan 5%.
“Demi meningkatkan daya saing industri Indonesia, kami berharap tarif impor LPG (sebagai bahan baku) dapat diturunkan menjadi 0%,” kata Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae Lo saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
Dia menyebut tarif impor 5% hanya berlaku di Indonesia, sementara di negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak memberlakukan tarif tersebut. Selain penurunan tarif impor LPG, dia juga berharap perusahaan bisa memperoleh pasokan bahan baku petrokimia seperti nafta dari pemerintah Indonesia.
“Kami berharap pemerintah dapat memasok nafta kepada LCI, karena kami sangat membutuhkan bahan tersebut,” ujarnya.
Kondisi perang Timur Tengah memang telah menghambat distribusi energi dan bahan baku utama industri petrokimia. LCI mengatakan perusahaan saat ini sedang berupaya untuk mendapatkan pasokan bahan baku dari negara lain, baik dari Asia hingga Afrika.
“Saat ini kami mengalami kekurangan bahan baku, seperti nafta dan LPG. Kami terus berupaya membeli bahan baku dari negara lain, namun sangat sulit untuk memperoleh kembali pasokan bahan baku tersebut,” ucapnya.
Beberapa negara yang dibidik seperti Singapura, Malaysia, ataupun Nigeria yang berada di Benua Afrika. Sumber bahan baku saat ini sangat dibutuhkan perusahaan agar kegiatan operasional bisa terus berjalan.
LCI sebelumnya telah mengumumkan mereka menurunkan tingkat produksinya. Direktur Management Support LCI, Cho Jin-Woo mengatakan perusahaan tetap beroperasi meski dengan kapasitas yang disesuaikan.
“LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
Cho mengatakan perusahaan saat ini mencari dukungan strategis dari Pemerintah Indonesia, dengan mengidentifikasi setidaknya empat poin penting untuk intervensi. Beberapa usulan yang diajukan antara lain penyederhanaan regulasi impor bahan baku, penerapan bea masuk 0% untuk LPG, serta pemberian insentif fiskal sementara guna menekan lonjakan biaya produksi.
Selain itu, perusahaan juga meminta dukungan pemerintah dalam memastikan keamanan jalur distribusi, termasuk membantu membuka akses bagi kapal pengangkut bahan baku yang saat ini tertahan di kawasan Selat Hormuz.
Cho menilai, dukungan tersebut penting tidak hanya untuk menjaga operasional perusahaan, tetapi juga untuk menopang ketahanan industri petrokimia nasional dalam jangka panjang.
“Kami berharap pemerintah dapat memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi tetap berlanjut dan mendukung program hilirisasi,” ujarnya.
LCI menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi komunikasi dengan para pelanggan dan pemangku kepentingan, serta memastikan keberlanjutan pasokan di tengah situasi global yang penuh tantangan.
