Di Tengah Lonjakan Harga Plastik, UMKM Didorong Beralih ke Kemasan Alternatif

Kamila Meilina
15 April 2026, 15:43
plastik, kemasan alternatif, kemasan ramah lingkungan
ANTARA FOTO/Seno/rwa.
Warga membuat besek atau wadah dari anyaman bambu di Desa Andongsari, Pakem, Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (4/6/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lonjakan harga plastik akibat terganggunya pasokan bahan baku global mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Pelaku usaha didorong untuk beradaptasi, salah satunya dengan beralih ke kemasan alternatif yang ramah lingkungan. 

Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, mengatakan industri kemasan dan plastik hilir tertekan akibat krisis bahan baku yang disebabkan oleh terganggunya rantai pasok global akibat konflik Timur Tengah

“Pasokan lokal praktis sangat minim karena kondisi force majeur masih berlaku. Namun kebutuhan bisnis tetap berjalan sesuai hukum supply and demand,” ujar Henky kepada Katadata.co.id, Rabu (15/4). 

Menurutnya, dalam kondisi ini, pelaku usaha cenderung memprioritaskan pelanggan tetap dengan melakukan kompromi harga yang saling menguntungkan. Meski demikian, tekanan biaya tetap tidak terhindarkan, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku.

Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk beralih ke kemasan alternatif. 

Henky menilai penggunaan bahan seperti kertas, plastik daur ulang, hingga bioplastik dapat menjadi solusi sementara, tergantung pada jenis produk. “Jika memungkinkan secara fungsi, tampilan, dan biaya,” katanya.

Gunakan Kombinasi Bahan Kemasan

Ia juga menyarankan penggunaan kombinasi bahan kemasan, seperti kertas untuk makanan kering dan daun pisang untuk makanan basah. Selain itu, edukasi kepada konsumen dinilai penting agar mereka memahami alasan kenaikan harga produk yang menggunakan kemasan ramah lingkungan.

“Pelaku usaha juga bisa berkolaborasi dengan sektor pertanian untuk memastikan pasokan bahan seperti daun pisang, bambu, atau ampas tebu tetap tersedia,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, menyatakan kenaikan harga plastik secara langsung berdampak pada biaya produksi UMKM. “Kalau bahan untuk memproduksi naik, pasti harga produk ikut terdorong,” ujarnya.

Ia bahkan mendorong pelaku usaha untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap plastik. “Kalau bisa, jangan pakai plastik dulu, cari alternatif lain,” katanya.

Edy juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mengatasi persoalan ini, terutama melalui pengelolaan sampah plastik. Menurutnya, pemilahan dan pengolahan ulang sampah plastik menjadi bahan baku baru dapat menjadi solusi jangka menengah.

“Sampah plastik harus dipilah dan diolah kembali menjadi biji plastik. Ini langkah yang harus segera diambil,” ujarnya.

Selain itu, ia mendorong pemerintah untuk mencari sumber impor alternatif bagi bahan baku plastik, guna mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi yang saat ini terganggu.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...