Industri Plastik Pangkas Ketebalan dan Genjot Daur Ulang untuk Tekan Biaya

Kamila Meilina
20 April 2026, 10:37
plastik, industri plastik, harga plastik naik
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/foc.
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk memindahkan dan menata bal plastik di gudang industri daur ulang plastik di kawasan Punggur, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (23/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Industri plastik dalam negeri melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menekan lonjakan biaya produksi, mulai dari mengurangi ketebalan produk hingga meningkatkan penggunaan bahan daur ulang.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan pelaku industri hilir atau konverter plastik didorong melakukan inovasi seperti saat krisis 1998 dan 2008.

Langkah utama yang dilakukan adalah downgauging atau pengurangan ketebalan dan dimensi plastik. “Kemasan yang sebelumnya tebal bisa dikurangi, sehingga penggunaan bahan baku lebih efisien,” ujar Fajar dalam keterangannya kepada Katadata.co.id, Jumat (17/4). 

Selain itu, industri juga meningkatkan penggunaan bahan campuran (filler) seperti kapur dan silikat untuk mengurangi ketergantungan pada biji plastik murni.

Upaya lain adalah menggenjot pemanfaatan plastik daur ulang. Saat ini kapasitas industri daur ulang nasional mencapai 2 juta ton, namun realisasi produksinya baru sekitar 1,5 juta ton.

“Masih ada potensi sekitar 500 ribu ton yang bisa dimanfaatkan untuk menggantikan bahan baku virgin,” kata Fajar.

Namun, ia menilai tantangan utama industri daur ulang adalah keterbatasan pasokan sampah plastik. Karena itu, diperlukan peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber.

Dorong Insentif Pajak untuk Industri Daur Ulang

Di sisi kebijakan, Inaplas mendorong pemerintah memberikan insentif bagi industri daur ulang, seperti pembebasan atau penanggungan pajak pertambahan nilai (PPN). Langkah ini dinilai penting untuk menutup selisih harga antara plastik daur ulang dan bahan baku murni.

Untuk jangka menengah, Fajar menilai Indonesia perlu memperkuat industri petrokimia dalam negeri. Peran Pertaminadinilai strategis dalam meningkatkan produksi bahan baku seperti polipropilena, yang menjadi komponen utama berbagai produk plastik.

Saat ini, kilang baru di Balikpapan disebut mulai mengarah pada produksi propilena, meskipun masih berfokus pada penguatan pasokan energi seperti LPG. “Ke depan, pengembangan produk petrokimia harus berjalan beriringan dengan kebutuhan energi,” ujarnya.

Selain itu, keterlibatan swasta juga dianggap penting. Perusahaan seperti Chandra Asri Pacific disebut telah memperkuat integrasi bisnis dari hulu ke hilir, sementara Lotte Chemical didorong untuk memperluas investasi di sektor kilang (refinery) dan bahan baku.

Dalam jangka panjang, industri plastik nasional didorong untuk tidak lagi bergantung pada minyak bumi sebagai satu-satunya sumber bahan baku. Alternatif seperti batu bara melalui teknologi coal to chemical serta biomassa dari minyak sawit mentah (CPO) dinilai memiliki potensi besar.

“Ke depan, bahan baku plastik bisa berasal dari tiga sumber utama: minyak bumi, batu bara, dan bio-based. Ini yang harus segera dikembangkan agar industri lebih tahan terhadap gejolak global,” kata Fajar.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...