Perang Iran Picu Harga Sarung Tangan Medis Naik 40%, Stok Terancam Langka
Industri sarung tangan medis global tertekan kelangkaan rantai pasok, imbas perang Timur Tengah. Produsen menaikkan harga hingga 40% dan memberi sinyal potensi pengurangan produksi, seiring terganggunya pasokan bahan baku utama.
Kondisi ini menjadi perhatian besar di sektor kesehatan. Pasalnya, sarung tangan medis merupakan keperluan wajib dalam hampir semua prosedur rumah sakit.
Analis ekuitas CIMB Securities, Oong Chun Sung mengatakan, harga rata-rata sarung tangan berbahan karet sintetis telah naik sekitar 40% menjadi US$ 29 per boks berisi 1.000 unit. Reuters pekan lalu melaporkan, lonjakan ini dipicu gangguan rantai pasok yang semakin parah akibat konflik di Timur Tengah.
Analis dari RHB dan CIMB Securities memperingatkan, jika gangguan berlanjut, dunia berisiko menghadapi kelangkaan sarung tangan medis pada akhir Mei.
Kondisi ini berpotensi mengganggu layanan kesehatan, mengingat sarung tangan menjadi perlengkapan wajib dalam hampir semua prosedur medis.
Presiden Association of Private Hospitals of Malaysia, Dr Kuljit Singh, menegaskan bahwa ketersediaan sarung tangan sangat krusial.
“Dalam setiap prosedur di rumah sakit, kami harus menggunakan sarung tangan. Jika terjadi kelangkaan, layanan kesehatan bisa terdampak,” ujarnya dikutip dari Reuters, Jumat (17/4).
Kendati demikian, ia menyebut pasokan saat ini masih berjalan normal, sambil tetap memantau situasi dengan waspada.
Akar persoalan terletak pada lonjakan harga naphtha, bahan turunan minyak mentah yang menjadi komponen penting dalam produksi petrokimia, termasuk bahan baku sarung tangan medis seperti nitrile latex.
Harga naphtha melonjak ke level tertinggi sepanjang masa setelah penutupan Selat Hormuz. Gangguan ini membuat pasokan bahan baku semakin ketat dan mahal.
Meski terdapat sinyal negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, analis menilai dampak terhadap rantai pasok dan tekanan inflasi kemungkinan akan bertahan berbulan-bulan bahkan setelah konflik mereda.
Produsen Siap Naikkan Harga Lagi
Produsen utama dunia yang berbasis di Malaysia, yang menyumbang hampir separuh produksi global, mulai menyesuaikan strategi harga.
Perusahaan seperti Top Glove menyatakan akan terus mengenakan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen. Perusahaan ini memperkirakan lonjakan biaya mencapai sekitar 50%, terutama akibat kenaikan harga nitrile latex yang digunakan dalam lebih dari separuh produksinya.
Sementara itu, Hartalega Holdings juga telah menyesuaikan harga jual. CEO Kuan Mun Leong menyatakan kekhawatiran bahwa perang yang berkepanjangan dapat mengganggu pasokan global dalam jangka panjang.
Perusahaan alat kesehatan lain seperti Medtecs turut menaikkan harga produk antara 10% hingga 40%, tergantung jenisnya.
Kenaikan harga ini turut mendorong sentimen pasar. Saham Top Glove dan Hartalega masing-masing melonjak sekitar 40% dan 50% dalam periode 24 Maret hingga 10 April, didorong ekspektasi lonjakan permintaan dan potensi kelangkaan pasokan.
Pengalaman pandemi Covid-19 membuat rumah sakit dan produsen kini memiliki cadangan stok untuk beberapa bulan ke depan. Namun, buffer alias penyangga tersebut dinilai hanya bersifat sementara jika konflik terus berlarut.
