Kementan Siapkan Rp3 T untuk Irigasi, Panggil 170 Bupati Antisipasi El Nino

Kamila Meilina
22 April 2026, 11:20
El Nino, Kementan, irigasi
ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/sg
Petani mengecek kondisi pompa air tenaga surya untuk mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan lebih dari Rp 3 triliun untuk sistem irigasi sebagai antisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional. Kebijakan ini dibarengi dengan konsolidasi sekitar 170 bupati dari seluruh Indonesia agar program berjalan optimal di daerah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, keterlibatan langsung kepala daerah merupakan kunci percepatan program, terutama dalam penguatan irigasi dan peningkatan produktivitas di sentra pangan.

“Kurang lebih 170 bupati se-Indonesia hadir, tidak diwakili,” ujar Amran dalam keterangannya, dikutip Rabu (22/4).

Menurutnya, sinergi pusat dan daerah diperlukan agar program pemerintah tidak berhenti di tingkat kebijakan, tetapi berjalan efektif di lapangan.

Kementan mengalokasikan anggaran irigasi lebih dari Rp 3 triliun dari total Rp 12 triliun yang didistribusikan. Program ini mencakup rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan (oplah), serta pompanisasi dengan cakupan hingga 1,5 juta hektare.

Selain itu, pemerintah menyiapkan sekitar 80 ribu unit pompa yang ditargetkan mampu mengairi hampir 1 juta hektare lahan, khususnya di wilayah dengan potensi peningkatan indeks pertanaman.

“Kami dorong anggaran irigasi lebih dari Rp3 triliun, dari total Rp12 triliun yang kita distribusikan,” kata Amran.

Ia menegaskan distribusi anggaran dilakukan berbasis potensi wilayah dan komitmen pemerintah daerah. “Tidak dibagi rata. Kita lihat potensi dan respons kepala daerah. Kalau bupatinya aktif, kita percepat,” ujarnya.

Target Produksi dan Sawah Baru

Di sisi produksi, Kementan menargetkan pencetakan sawah baru seluas 30 ribu hektare guna memperluas areal tanam. Pemerintah juga menyalurkan benih tahan kekeringan untuk mendorong peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun, terutama di lahan kering.

Amran memastikan kondisi produksi dan cadangan pangan nasional masih dalam posisi aman. Ia menyebut stok beras dalam waktu dekat diperkirakan mencapai 5 juta ton.

Selain itu, standing crop mencapai sekitar 11 juta ton, sementara cadangan di sektor rumah tangga dan horeka sekitar 12,5 juta ton.

“Totalnya bisa 11 bulan. Estimasi El Nino itu hanya enam bulan. Artinya lebih dari cukup,” ujarnya.

Selain tanaman pangan, pemerintah juga mengalokasikan Rp 9,95 triliun pada 2026–2027 untuk pengembangan perkebunan. Program ini menyasar komoditas seperti tebu, kakao, kelapa, kopi, pala, hingga jambu mete dengan target pengembangan lahan mencapai 870 ribu hektare.

Meski demikian, ia menekankan keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan, bukan hanya besarnya anggaran.

“Kalau rendemen rendah, solusinya permanen, bongkar, ganti bibit. Kalau produktivitas rendah, petani tidak untung, tidak bisa beli pupuk. Ini lingkaran yang harus kita putus,” ujarnya. 

Amran juga mengingatkan pemerintah daerah agar bertanggung jawab dalam memanfaatkan anggaran yang telah disiapkan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...