Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Belum Berkualitas, Ekspor Lesu Jadi Alarm
Kinerja ekspor Indonesia pada Maret 2026 tercatat menurun di tengah pertumbuhan ekonomi yang menjulang pada triwulan I-2026. Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan kondisi itu mencerminkan daya tahan ekonomi nasional yang cukup baik, namun masih perlu diperkuat dari sisi kualitas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Maret 2026 turun 3,10% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$ 22,53 miliar. Namun secara kumulatif, ekspor Januari–Maret 2026 mencapai US$ 66,85 miliar atau hanya tumbuh 0,34%.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61% (yoy). Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Penurunan ekspor Maret perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi pelemahan berkepanjangan. Pertumbuhan juga perlu diperkuat agar tidak terlalu bertumpu pada faktor musiman dan konsumsi domestik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5).
Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen, diikuti jasa lainnya 9,91 persen serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen. Industri pengolahan sebagai sektor terbesar tumbuh 5,04 persen.
Menurut Setijadi, tingginya pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan menunjukkan aktivitas logistik menjadi salah satu penggerak ekonomi. Namun, peningkatan tersebut harus diikuti efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda, serta digitalisasi rantai pasok.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen, sementara ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,90 persen, di bawah impor yang tumbuh 7,18 persen.
BPS juga mencatat impor Januari–Maret 2026 naik 10,05 persen menjadi USD61,30 miliar, didorong oleh impor bahan baku dan barang modal. Neraca perdagangan masih mencatat surplus USD5,55 miliar, namun lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD10,91 miliar.
SCI menilai kinerja ekspor nonmigas masih ditopang industri pengolahan yang tumbuh 3,96 persen, sementara sektor pertanian dan pertambangan masing-masing turun 32,18 persen dan 11,17 persen.
Di sisi lain, kenaikan impor barang modal dinilai dapat menjadi sinyal ekspansi kapasitas produksi. Namun, peningkatan tersebut perlu dikawal agar benar-benar mendorong produktivitas dan menghasilkan ekspor bernilai tambah.
Untuk itu, SCI merekomendasikan penguatan konektivitas logistik dari sentra produksi ke pasar dan pelabuhan, percepatan digitalisasi layanan logistik, serta pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Jawa.
Selain itu, pemerintah dan pelaku usaha juga didorong memperkuat hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor, efisiensi pelabuhan, serta peningkatan daya saing layanan logistik agar mampu mendorong ekspor bernilai tambah dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
