Airbus Teken Kerja Sama dengan RI, Incar Indonesia Jadi Hub Produksi
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjalin kerja sama strategis dengan Airbus melalui penandatanganan Joint Declaration of Intent (JDI), pada Selasa (6/5). Menteri PPN Rachmat Pambudy mengatakan, kesepakatan ini akan mendorong Indonesia menjadi pusat atau hub produksi industri dirgantara sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
”Pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh tidak hanya sebatas transaksi dan pemakaian pesawat, namun harus lebih luas lagi, yaitu mencakup rantai pasok industri besar terbaru,” kata Rachmat dalam penandatangan MoU di kantornya, Rabu (6/5).
Ia mengatakan, satu unit pesawat seperti A320 membutuhkan sekitar 4 juta komponen yang berasal dari 30 negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, penguatan kapasitas industri nasional dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai pasok dan penciptaan nilai tambah di industri tersebut.
Lebih lanjut, ia berharap PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dapat naik kelas menjadi tier satu pemasok bagi Airbus, sehingga mampu memproduksi komponen utama seperti sayap pesawat A320, bahkan berkontribusi dalam pembangunan pesawat secara lebih luas di masa depan.
Airbus Targetkan Indonesia jadi Basis Produksi dan Ekspor
Presiden Airbus Asia Pacific, Anand Stanley, mengatakan kerja sama ini menandai babak baru komitmen Airbus di Indonesia yang telah berlangsung selama 50 tahun.
Ia menegaskan, Airbus tidak hanya berfokus pada penjualan pesawat, tetapi juga pengembangan industri di dalam negeri. Kolaborasi Airbus dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah dimulai sejak 1976 melalui produksi pesawat NC212 dan NBO-105.
“Hari ini adalah chapter selanjutnya untuk melakukan lebih banyak,” katanya.
Anand menyebut, Airbus menargetkan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor ke depan. Saat ini, lebih dari 220 pesawat Airbus beroperasi di Indonesia, mencerminkan peran strategis pasar domestik.
“Tujuan Airbus adalah membangun Indonesia untuk mengekspor dari Indonesia,” ujarnya.
Selain sektor komersial, Airbus juga terlibat dalam pengembangan sektor pertahanan dan layanan pendukung seperti Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Perusahaan melihat potensi besar Indonesia untuk mengembangkan industri tersebut seiring pertumbuhan pasar penerbangan.
Ia menambahkan, pasar aviasi Indonesia diproyeksikan tumbuh signifikan hingga empat kali lipat pada 2045, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7,4%. Kondisi ini mendorong kebutuhan penguatan kapasitas industri, termasuk manufaktur, MRO, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kami melihat kebutuhan untuk membangun ekosistem industri yang dapat mendukung pertumbuhan tersebut,” kata Anand.
Melalui JDI, Airbus berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas industri nasional melalui transfer teknologi, penguatan manufaktur, serta pengembangan SDM dalam jangka panjang.
Sementara itu, Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, mengatakan penandatanganan JDI merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional.
“Hari ini dilaksanakan penandatanganan JDI sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara di Indonesia,” ujar Vivi.
Ia menjelaskan, kerja sama ini difokuskan pada peningkatan kapasitas industri, penerapan standar dan lisensi internasional, serta pengembangan ekosistem industri berbasis teknologi tinggi dan SDM unggul.
“Indonesia akan terus mendorong transformasi struktural melalui industri teknologi tinggi, khususnya sektor dirgantara sebagai game changer pertumbuhan ekonomi nasional,”ujarnya.

