Penutupan Krakatau Osaka Steel Alarm Serius bagi Industri Manufaktur

Kamila Meilina
7 Mei 2026, 15:53
Krakatau Osaka Steel, industri baja, industri manufaktur
Krakatau Osaka Steel
Krakatau Osaka Steel
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Penutupan PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dinilai menjadi alarm serius bagi industri manufaktur nasional, khususnya sektor baja. Kondisi itu mencerminkan tekanan berat yang tengah dihadapi industri baja domestik akibat banjir impor baja murah, lemahnya permintaan dalam negeri, hingga tingginya biaya produksi.

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengatakan, penutupan KOS dan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menunjukkan adanya persoalan serius dalam struktur industri baja nasional.

“Kondisi ini mencerminkan tekanan berat akibat banjir baja impor murah, lemahnya permintaan domestik, serta kelebihan pasokan global, terutama dari Tiongkok,” ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Kamis (7/5).

Perusahaan tercatat telah mengalami kerugian sejak 2022 sebelum akhirnya menghentikan produksi pada April 2026 dan menutup operasional pada Juni 2026.

Risiko Deindustrialisasi

Menurut Rizal, persoalan utama yang dihadapi industri baja nasional bukan semata kalah bersaing dari sisi harga, melainkan lemahnya daya saing industri domestik akibat tingginya biaya energi, logistik, dan pembiayaan di dalam negeri.

Di sisi lain, produsen baja asing memiliki kapasitas produksi dan efisiensi yang lebih besar sehingga mampu menjual produk dengan harga lebih rendah di pasar Indonesia.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko deindustrialisasi dini semakin nyata karena industri strategis nasional kehilangan pasar di negaranya sendiri,” katanya.

Rizal menilai pemerintah perlu segera memperkuat instrumen trade remedies, seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan safeguard, memperketat pengawasan impor ilegal, serta mengoptimalkan penggunaan baja lokal dalam proyek infrastruktur nasional.

Selain itu, pemerintah juga didorong memberikan insentif energi, pembiayaan murah, hingga percepatan modernisasi teknologi industri baja agar industri nasional lebih efisien dan kompetitif.

Masalah Struktural Industri Baja

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kasus Krakatau Osaka Steel tidak bisa dipandang sekadar penutupan satu pabrik atau persoalan PHK biasa, melainkan mencerminkan persoalan struktural industri baja nasional.

Menurut Yusuf, KOS merupakan perusahaan joint venture antara Osaka Steel Co Ltd dan PT Krakatau Steel yang didukung teknologi modern dan investor global. Karena itu, keputusan perusahaan menghentikan operasional menjadi sinyal penting terkait kesehatan ekosistem industri baja nasional.

Yusuf menjelaskan tekanan terhadap industri baja nasional datang dari berbagai arah. Dari sisi eksternal, produsen baja domestik menghadapi banjir baja murah asal Cina akibat kelebihan kapasitas produksi global. Produk baja tersebut dijual dengan harga sangat rendah sehingga sulit disaingi industri dalam negeri, terutama untuk produk baja jenis long products yang bersifat komoditas.

Di saat yang sama, permintaan domestik juga melemah akibat perlambatan belanja infrastruktur. Padahal, sektor konstruksi selama ini menjadi penopang utama konsumsi baja nasional. “KOS sangat bergantung pada sektor konstruksi, sehingga ketika belanja infrastruktur melambat, dampaknya langsung terasa ke volume penjualan,” ujarnya.

Menurut Yusuf, kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya produksi di dalam negeri. Industri baja sangat bergantung pada energi, sementara harga gas dan listrik dinilai belum cukup kompetitif dan belum stabil. Kebijakan harga gas khusus memang sudah ada, namun implementasinya belum konsisten sehingga menyulitkan pelaku usaha menyusun perencanaan jangka panjang.

Selain itu, KOS juga dinilai berada di segmen usaha yang sangat kompetitif dengan produk yang minim diferensiasi, sehingga persaingan hanya bertumpu pada harga. “Tanpa masuk ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi, ruang bertahan memang makin sempit,” katanya.

Kebijakan untuk Industri Baja Belum Kuat

Yusuf menilai kondisi ini mencerminkan belum kuatnya arah kebijakan industri nasional untuk sektor baja. Menurut dia, pemerintah cukup agresif mendorong hilirisasi di sejumlah sektor, tetapi belum memiliki strategi yang sama kuat untuk memperkuat industri baja sebagai penopang kebutuhan domestik.

Ia menambahkan, meski kontribusi KOS terhadap industri baja nasional tidak terlalu besar, penutupan perusahaan tetap menjadi sinyal negatif bagi iklim investasi. “Ketika investor seperti Osaka Steel memilih keluar, ini memberi pesan ke investor lain bahwa risikonya tinggi,” ujarnya.

Karena itu, Yusuf mendorong pemerintah memperkuat pengendalian impor, menjaga kesinambungan proyek infrastruktur, menciptakan stabilitas harga energi, serta mendorong transformasi industri baja ke produk bernilai tambah lebih tinggi. Selain itu, pembenahan PT Krakatau Steel juga dinilai penting karena arah strategi dan kesehatan keuangannya akan memengaruhi masa depan industri baja nasional.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...