Harga Minyak Turun di Tengah Asa Kesepakatan Damai AS-Iran, Anjlok 8% Sepekan

Kamila Meilina
29 Mei 2026, 08:49
Kapal Floating Storage Offloading (FSO) Arco Ardjuna Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melakukan proses lifting minyak ke kapal tanker di perairan utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Senin (3/4/2023). FSO Arco Ardjuna yang berkapa
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.
Kapal Floating Storage Offloading (FSO) Arco Ardjuna Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melakukan proses lifting minyak ke kapal tanker di perairan utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Senin (3/4/2023). FSO Arco Ardjuna yang berkapasitas 1 juta barel minyak tersebut memiliki tugas penting sebagai fasilitas pe­nampung hasil produksi minyak mentah lapangan PHE ONWJ yang selanjutnya dikirim ke oil tanker untuk dibawa ke kilang minyak.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Jumat (29/5). Penurunan terjadi di tengah harapan tercapainya kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. 

Merujuk pemberitaan Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak Juli yang akan berakhir pada Jumat turun 35 sen atau 0,37% menjadi US$ 93,36 per barel pada pukul 01.05 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 63 sen atau 0,71% menjadi US$ 88,27 per barel.

Kontrak Brent yang lebih aktif diperdagangkan untuk pengiriman Agustus juga turun 46 sen atau 0,50% menjadi US$ 92,24 per barel. Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menyebut negosiasi masih belum final, diperkirakan menahan penurunan harga lebih dalam.

Secara mingguan, harga minyak tercatat anjlok lebih dari 8%. Harga Brent sempat menyentuh level terendah US$ 87,11 per barel, jauh turun dibanding posisi tertinggi pekan lalu yang mencapai US$ 109,47 per barel.

Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir terpantau volatil. Kedua acuan minyak dunia itu sempat bergerak naik turun hingga US$ 6 per barel akibat sinyal yang saling bertentangan terkait potensi berakhirnya perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan, serta adanya kemungkinan kembali dibukanya Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Meski demikian, lalu lintas kapal di jalur tersebut saat ini masih jauh di bawah level sebelum perang.

Sumber Reuters menyebut Amerika Serikat dan Iran pada Kamis telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan mencabut pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz. Namun Presiden AS Donal Trump disebut belum menyetujui kesepakatan itu, media Iran juga menyatakan pembicaraan belum pada tahap final. 

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington dan Teheran memang semakin dekat menuju kesepakatan, namun masih terdapat sejumlah ganjalan dalam perundingan.

“Kami belum sampai di tahap final, tetapi kami sudah sangat dekat,” kata Vance dikutip dari Reuters (29/5).

Ia menyebut salah satu isu yang masih menjadi pembahasan adalah stok uranium yang diperkaya milik Iran serta persoalan pengayaan uranium.

“Saya tidak bisa menjamin kami akan mencapai kesepakatan, tetapi saat ini saya merasa cukup optimistis,” ujar Vance.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...