Perempuan Petani di Pulau Obi Topang Ekonomi dengan Hortikultura

Uji Sukma Medianti
Oleh Uji Sukma Medianti - Tim Publikasi Katadata
5 Juni 2026, 15:38
Para petani di Desa Soligi, Pulau Obi, Maluku Utara.
Dok. Istimewa
Para petani di Desa Soligi, Pulau Obi, Maluku Utara.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Hamparan ladang sayur menghijau di atas bedeng-bedeng tanah yang tertata rapi. Kangkung, kacang panjang, timun dan lain-lain kini tumbuh subur di Desa Soligi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan.

Padahal, beberapa tahun lalu, mayoritas perempuan petani di sana belum mengenal teknik dasar budi daya hortikultura.

Namun, para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Soligi dan Kawasi kini mulai menikmati hasil nyata.

Kelompok tani beranggotakan 19 perempuan tersebut secara rutin memasok sayuran ke perusahaan dan pasar lokal. Aktivitas ini menghasilkan omset mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Ketua KWT Soligi Jahariya mengatakan, kelompoknya kini mengelola empat lahan pertanian hortikultura. 

“Sayur dikirim ke perusahaan dua kali dalam seminggu, hasilnya bisa sekitar Rp30 juta per bulan,” tuturnya dikutip dari keterangan resmi, Jumat (5/6).

Bagi Jahariya dan kelompoknya, rupiah itu bukan sekadar tambahan penghasilan. Aktivitas pertanian yang mereka tekuni memantik kepercayaan diri bahwa mereka mampu turut berkontribusi menopang perekonomian keluarga.

Di Pulau Obi, pertanian sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat Desa Soligi dan Kawasi sejak lama menggantungkan hidup dari perkebunan. Beberapa ragam komoditas yang dihasilkan, misalnya pala, cengkeh, dan kelapa.

Cara bertani mereka semula dilakukan dengan teknik tradisional yang dipelajari secara turun-temurun. Salah satu wujudnya adalah praktik ladang berpindah dengan teknik budi daya yang terbatas.

Pada awalnya, tanaman hortikultura pun belum banyak dikenal masyarakat. Kalaupun ada, proses budi daya dilakukan tanpa perencanaan musim tanam, penyemaian bibit, maupun pengendalian hama yang tepat.

Merespons kondisi tersebut, Harita Nickel melalui program sekolah ladang mulai melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani di Desa Soligi dan Kawasi.

Pendampingan dilakukan tidak hanya melalui pelatihan budi daya, tetapi juga dengan pendekatan berbasis nilai. Para pendamping mulai dengan mendengarkan kebutuhan warga, terutama perempuan yang ingin membantu meningkatkan penghasilan keluarga.

Community Development Supervisor Harita Nickel Albertus Darukumara mengatakan, anggota kelompok tani setempat adalah perempuan. Sebab, mayoritas laki-laki bekerja di perusahaan atau menjadi nelayan.

“Dan para ibu ini ingin membantu ekonomi keluarga melalui pertanian,” ujarnya. 

Kini, anggota KWT di Soligi dan Kawasi mampu membudidayakan berbagai jenis sayuran hortikultura seperti kangkung, bayam, pare, terong, kacang panjang, serta cabai dengan kualitas yang semakin baik.

Mereka juga mulai memahami pentingnya menjaga kualitas panen dan keberlanjutan pasokan demi menjaga kepercayaan konsumen.

Thofiya selaku Ketua KWT Kawasi mengaku bahwa hasil pertanian tersebut membawa perubahan nyata bagi keluarganya.

“Dari hasil panen pertama dan kedua dari lahan kami di Akelamo, kami bisa bayar sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” katanya.

Pengalaman sebagian masyarakat Pulau Obi ini menunjukkan, industri tambang turut memantik berkembangnya sektor pertanian.

Hal ini terdorong kehadiran puluhan ribu karyawan yang tinggal dan bekerja setiap hari di pabrik peleburan dan pemurnian nikel yang membutuhkan asupan makanan.

Selain ibu-ibu di Desa Soligi, peluang industrialisasi nikel juga ditangkap Darwan Aduhasan (33 tahun). Bersama rekan-rekannya, petani asal Desa Buton, Pulau Obi ini membentuk Kelompok Perintis Kedaulatan Pangan Obi (Pelangi) dan Koperasi Tani Bersatu Milenial.

Pelangi sendiri merupakan salah satu kelompok tani dalam Program Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani). Bersama dengan Community Development Harita Nickel, anggota Sentani belajar metode pertanian modern, termasuk dukungan benih dan teknologi pertanian.

”Keluarga kami selama 15 tahun mampu bertahan hidup, bahkan membiayai sekolah saya sampai sarjana murni dari hasil hortikultura. Kehadiran industri membuka akses pasar yang selama ini kami butuhkan,” tutur Darwan.

Kelompok tani di dalam Sentani mampu menghasilkan produktivitas padi sebanyak 8 ton per hektare (ha). Jumlah ini di atas rata-rata nasional 5,31 ton Gabah Kering Giling (GKG) per ha.

Para petani kemudian diarahkan untuk membentuk koperasi atau menjalin kerja sama dengan vendor perusahaan. Dengan demikian, petani dapat menjual hasil sawah dan hasil pertaniannya ke perusahaan.

Tercatat, pada 2025 total transaksi Sentani dengan perusahaan mencapai Rp133 juta. Sementara itu, omzet yang diperoleh KWT bisa mencapai 30 juta per bulan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...