Dubes Cina Wang Lutong: Restrukturisasi Utang Whoosh Masih Berjalan Positif
Duta Besar Cina untuk Indonesia Wang Lutong menyatakan komunikasi terkait restrukturisasi pendanaan proyek Kereta Cepat Whoosh masih terus berlangsung dan berjalan positif. Hal itu disampaikan Wang saat menjawab pertanyaan mengenai perkembangan terbaru utang proyek tersebut.
Wang mengatakan pendanaan proyek Whoosh bukan merupakan utang perdagangan antara pemerintah Cina dan Indonesia. Menurut dia, dana tersebut berasal dari pinjaman bank pembangunan yang diberikan kepada proyek Whoosh.
“Itu bukan utang perdagangan. Itu adalah dana yang kami pinjamkan dari bank pembangunan kepada Whoosh,” ujar Wang saat ditemui wartawan, Rabu (24/6).
Saat ditanya mengenai perkembangan negosiasi restrukturisasi, Wang mengatakan pihaknya terus menjalin komunikasi erat dengan kementerian dan pihak terkait di Indonesia.
“Kami terus menjaga komunikasi yang sangat erat dengan pihak-pihak terkait dan kementerian di sini. Semuanya berjalan dengan baik,” katanya.
Namun, Wang belum bersedia mengungkap detail pembahasan yang sedang berlangsung. Ia hanya memastikan proses negosiasi berada di jalur yang tepat.
“Tidak memungkinkan untuk mengungkapkan detail apa pun selama proses pembahasan masih berlangsung, tetapi semuanya berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Operasional Whoosh Tetap di Bawah KAI
Sebelumnya, pemerintah menyatakan telah menyelesaikan proses restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung Whoosh. Direktur Operasional Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria menyatakan ia akan mengumumkan hal tersebut secara resmi bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam dua pekan ke depan.
“Insyaallah dalam seminggu atau dua minggu lagi akan ketemu dengan wartawan untuk menyampaikan penyelesaian Whoosh yang sudah selesai. Bapak Presiden berharap pengelolaan BUMN ke depan akan semakin baik,” kata Dony di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (7/4).
Dony menyampaikan operasional Kereta Cepat Whoosh tetap berada di bawah kendali PT Kereta Api Indonesia (KAI). “Operasional tetap di KAI, karena memang Kereta Api Indonesia memang bidangnya itu,” ujarnya.
Dalam struktur konsorsium domestik, kepemilikan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) didominasi oleh KAI sebesar 58,53%. Sementara itu, PT Wijaya Karya menguasai 33,36% saham, PT Perkebunan Nusantara I sebesar 1,30%, dan PT Jasa Marga sebesar 7,08%.
Di sisi lain, konsorsium mitra dari Cina melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd memiliki komposisi kepemilikan yang terdiri dari China Railway Engineering Corporation (CREC) sebesar 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, China Railway Signal & Communication (CRSC) 10,12%, serta China Railway International Group (CRIC) sebesar 5%.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai operator Whoosh merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia yang tergabung dalam PSBI dan konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
Segera Diumumkan ke Publik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penanganan restrukturisasi utang Whoosh telah rampung dan tinggal menyisakan tahapan formalitas sebelum diumumkan ke publik.
“Sudah selesai cuma tinggal formalitasnya, tapi saya belum bisa umumkan sekarang karena bukan saya sendiri yang terlibat. Nanti akan diumumkan, tapi sudah clear itu,” ujar Purbaya.
Purbaya sebelumnya menilai Danantara mampu menyelesaikan masalah utang Whoosh tanpa suntikan dari APBN. Menurut Purbaya, proyeksi pendapatan dari operasional Whoosh mencapai Rp 1,5 triliun per tahun.
Di sisi lain, Danantara yang saat ini membawahi KCIC memiliki kemampuan untuk menyelesaikan utang KCIC tanpa bantuan pemerintah karena mengelola dividen BUMN.
“Karena Danantara terima dividen dari BUMN kan hampir Rp 80 triliun sampai Rp 90 triliun. Itu cukup untuk menutupi sekitar Rp 2 triliun (bunga) bayaran tahunan KCIC,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (16/10/2025).
