Bali Masih Dominasi Kedatangan Wisman, 31 Bandara Lain Hanya Sumbang 9,81%

Kamila Meilina
25 Juni 2026, 16:50
Sejumlah wisatawan mancanegara berlatih selancar di Pantai Kuta, Badung, Bali, Jumat (19/6/2026). Kementerian Pariwisata mencatat devisa sektor pariwisata pada triwulan I 2026 mencapai Rp68,28 triliun atau tumbuh 6,3 persen dibandingkan periode yang sama
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.
Sejumlah wisatawan mancanegara berlatih selancar di Pantai Kuta, Badung, Bali, Jumat (19/6/2026). Kementerian Pariwisata mencatat devisa sektor pariwisata pada triwulan I 2026 mencapai Rp68,28 triliun atau tumbuh 6,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang didorong oleh bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan serta naiknya rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kinerja sejumlah bandara internasional di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, masih menjadi pintu masuk utama wisman, sementara puluhan bandara internasional lainnya berkontribusi lebih kecil.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, pemerintah saat ini tengah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap bandara-bandara internasional setelah adanya arahan Presiden untuk membuka kembali sejumlah bandara internasional.

Setelah kurang lebih satu tahun berjalan, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali masih menjadi destinasi utama dengan kontribusi terbesar terhadap kedatangan wisatawan mancanegara.

“Artinya I Gusti Ngurah Rai Bali ini menyerap paling besar jauh dibandingkan yang lain, 63,85% setiap tahun. Ini data tahun 2025, 6,9 juta wisatawan mancanegara,” kata AHY dalam Rapat Koordinasi Kebandarudaraan, di Jakarta, Kamis (25/6). 

Sementara itu, Bandara Soekarno-Hatta berada di posisi berikutnya dengan jumlah kedatangan wisman sekitar 2,7 juta atau sekitar 25%. Disusul Bandara Hang Nadim Batam dengan 1,5 juta wisman atau 14,73%.

Adapun Bandara Juanda tercatat menyumbang sekitar 3%, sedangkan Bandara Kualanamu Medan sebesar 2,58%.

“Yang lainnya, 31 bandara ini diakumulasikan kurang lebih hanya di angka 9,81%,” ujar dia.

AHY mengatakan, hasil monitoring dan evaluasi terhadap bandara internasional dilakukan dengan melihat sejumlah indikator utama. Menurutnya, pemerintah tidak hanya melihat jumlah penumpang, tetapi juga aspek keberlanjutan operasional dan dampak ekonomi.

“Tentu kita selalu hadapkan ada 4 parameter utama,” ujar AHY.

Parameter pertama adalah trafik bandara, termasuk jumlah penumpang yang datang maupun keluar.

“Pertama, trafiknya bagaimana? Banyak nggak yang datang? In and out-nya bagaimana? Apakah lebih banyak yang datang atau lebih banyak yang keluar?” katanya.

Parameter kedua adalah kinerja keuangan bandara. Pemerintah ingin memastikan operasional bandara dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, pemerintah juga mengevaluasi kesiapan infrastruktur bandara dalam mendukung konektivitas antarwilayah.

“Infrastrukturnya, apakah mampu meningkatkan konektivitas ke berbagai wilayah?” katanya.

Terakhir, evaluasi juga mempertimbangkan dampak strategis bandara terhadap perekonomian daerah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...