Said Iqbal: Pemerintah Buka Opsi Selamatkan PT Granito Lewat Danantara
Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyebut pemerintah membuka opsi penyelamatan PT Granito melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Said mengatakan PT Granito menjadi salah satu perusahaan yang dibahas dalam rapat Satgas PHK bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Menurutnya, Danantara siap memberikan bantuan apabila PT Granito membutuhkan suntikan modal agar operasional perusahaan tetap berjalan.
"Kalau PT Granito memang membutuhkan bantuan Danantara sebagai suntikan modal agar tidak terjadi PHK. Prinsipnya, kata Satgas PHK, Danantara siap," ujar Said usai bertemu COO Danantara Dony Oskaria di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Rabu (1/7).
Meski demikian, Said mengatakan bahwa bantuan tersebut harus melalui kajian kelayakan bisnis, termasuk memastikan produk PT Granito masih mampu bersaing di pasar.
Ia mengatakan persoalan utama yang sebelumnya menekan industri granit dan keramik adalah tingginya harga gas industri. Namun, pemerintah telah menurunkan harga gas industri dari kisaran US$20–23 per MMBTU menjadi US$13 per MMBTU.
Dengan penurunan harga gas tersebut, Said menyebut perusahaan granit dan keramik mulai mendapat ruang untuk memperbaiki struktur biaya dan mengurangi risiko PHK.
"Perusahaan-perusahaan granit dan keramik bisa sementara ini lega di struktur biayanya dan tidak melakukan PHK," katanya.
Said juga meluruskan isu PHK besar-besaran di PT Granito. Menurutnya, PHK yang terjadi mencapai ratusan pekerja, bukan puluhan ribu. "Tidak sampai 55 ribu, itu saya luruskan," ujar Said.
Ia menjelaskan, PHK terjadi karena perubahan strategi bisnis perusahaan yang melakukan diversifikasi usaha dan tidak lagi fokus pada produksi granit.
Saat ini, kata Said, tantangan industri granit dan keramik adalah masuknya produk impor yang lebih murah. Ia menyebut harga granit dan keramik impor bisa lebih rendah hingga 50 persen dibanding produk dalam negeri.
"Setelah harga gas turun, tantangannya adalah menghadapi impor granit dan keramik yang harganya 50 persen lebih murah," ujarnya.
