Strategi MRT Jakarta Merajut Empat Kawasan Dukuh Atas Lewat Pedestrian Deck
Kawasan Dukuh Atas merupakan salah satu simpul transportasi tersibuk di Jakarta yang mempertemukan berbagai layanan transportasi publik dalam satu kawasan. Kemudahan berpindah moda ini seharusnya didukung dengan akses pejalan kaki yang nyaman. Namun, di balik integrasi tersebut, konektivitas antarkawasan di Dukuh Atas masih menyisakan persoalan karena belum sepenuhnya ramah bagi pejalan kaki.
Berangkat dari persoalan itu, PT MRT Jakarta merancang pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas sebagai bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Artinya, konsep pengembangan transportasi umum ini akan terintegrasi dengan berbagai aktivitas masyarakat.
Infrastruktur tersebut tak hanya ditujukan sebagai jalur penyeberangan, melainkan sebagai penghubung empat kawasan yang selama ini terpisah. Dengan demikian, mobilitas pejalan kaki diharapkan menjadi lebih nyaman dan terintegrasi.
Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, menjelaskan kawasan Dukuh Atas saat ini terbagi ke dalam empat kuadran yang masih terfragmentasi. Kawasan tersebut mencakup area stasiun KRL BNI City dan MRT Dukuh Atas BNI di sisi utara (Q1), kawasan stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas (Q2), Kompleks Wisma 46 BNI (Q3), hingga ke kawasan Halte TransJakarta Galunggung dan Kompleks Landmark (Q4). Meski opsi moda transportasi cukup banyak, pejalan kaki harus memutar cukup jauh untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
"Yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana menghubungkan empat kawasan tersebut sehingga perjalanan pejalan kaki menjadi lebih nyaman," ujarnya di Jakarta Selatan, Kamis (30/7).
Pedestrian Deck Pangkas Waktu Tempuh Pejalan Kaki
Kawasan Dukuh Atas merupakan titik pertemuan berbagai moda transportasi, mulai dari MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, Transjakarta, hingga kereta bandara. Karena itu, menurutnya konektivitas antarmoda tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan stasiun, tetapi juga harus didukung infrastruktur pejalan kaki yang memadai.
Kajian kelayakan yang dilakukan bersama mitra Jepang menunjukkan pembangunan pedestrian deck berpotensi memangkas waktu tempuh pejalan kaki sekaligus meningkatkan kenyamanan perjalanan, terutama saat cuaca panas maupun hujan. Infrastruktur itu juga diharapkan mendorong lebih banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
"Dengan pedestrian deck ini bisa menghemat sekitar empat sampai lima menit," ujar Agus.
Menurut Agus, penghematan waktu tersebut terutama dirasakan oleh pejalan kaki yang berjalan dari kawasan Landmark menuju Hotel Shangri-La. Mereka tidak lagi harus turun ke permukaan jalan, memutar, atau menyeberangi sejumlah persimpangan karena seluruh perjalanan dapat dilakukan melalui pedestrian deck yang menghubungkan berbagai titik tujuan.
Selain memangkas waktu perjalanan, infrastruktur ini juga diharapkan dapat mengurai kepadatan pejalan kaki yang selama ini terpusat di Terowongan Kendal sekitar stasiun KRL Sudirman dan MRT Dukuh Atas BNI.
"Saat ini akses utama perpindahan antarkuadran masih terpusat di Terowongan Kendal. Dengan adanya pedestrian deck, masyarakat akan memiliki alternatif jalur perpindahan sehingga kepadatan di Terowongan Kendal dapat berkurang," katanya.
PT MRT Jakarta mulai memasuki tahap tender untuk pembangunan fisik Pedestrian Deck Dukuh Atas dengan nilai investasi sekitar Rp361 miliar. Proyek yang dirancang menjadi penghubung utama kawasan transit di Dukuh Atas itu akan dibiayai tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Bukan Sekadar Infrastruktur
Pembangunan pedestrian deck merupakan bagian dari visi yang lebih besar, yakni menjadikan MRT Jakarta tidak hanya sebagai operator transportasi, tetapi juga pengelola kawasan berbasis transit.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan pengembangan kawasan di sekitar stasiun tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur transportasi, melainkan juga revitalisasi ruang publik agar lebih nyaman dan berkualitas.
Salah satu implementasi konsep itu telah diwujudkan melalui Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M yang kini berkembang menjadi ruang publik sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Selain itu, MRT Jakarta juga mendorong interkoneksi langsung antara stasiun dengan bangunan komersial di sekitarnya.
Menurut Sagita, koneksi langsung dengan stasiun terbukti mampu meningkatkan nilai ekonomi suatu kawasan. Contohnya terlihat pada Blok M Plaza maupun Point Square di Lebak Bulus yang memperoleh peningkatan daya tarik setelah terhubung dengan jaringan MRT.
"Interkoneksi dapat meningkatkan value sebuah bangunan, baik dari sisi aktivitas maupun nilai komersialnya," ujarnya.
Saat ini MRT Jakarta telah mendapat mandat mengelola sembilan kawasan TOD di sepanjang jalur fase 1 dan fase 2. Dari jumlah tersebut, lima kawasan telah memiliki dasar regulasi yang lengkap, yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M-ASEAN, Istora Mandiri, dan Dukuh Atas.
Dengan proyek ini, MRT Jakarta berharap perpindahan antarmoda di Dukuh Atas menjadi lebih cepat, nyaman, dan terintegrasi. Pembangunan pedestrian deck juga menjadi bagian dari transformasi kawasan transit menjadi ruang kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki.
