Indeks PMI Manufaktur ASEAN Naik ke 52,8, Tertinggi dalam Lima Bulan
Aktivitas manufaktur di kawasan ASEAN kembali menguat pada Juli 2026. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur ASEAN yang dirilis S&P Global naik menjadi 52,8 dari 50,5 pada Juni, sekaligus menjadi level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan sektor manufaktur ASEAN tampaknya telah melewati periode perlambatan yang terjadi sepanjang Maret hingga Juni akibat dampak konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi permintaan membaik pada Juli dengan pertumbuhan pesanan baru yang signifikan sehingga mendorong peningkatan produksi, aktivitas pembelian, dan perekrutan tenaga kerja.
"Perusahaan juga semakin optimistis terhadap prospek produksi. Tingkat keyakinan bisnis menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, sementara tekanan harga kembali mereda sehingga mengurangi hambatan bagi sektor manufaktur di kawasan," ujar Maryam, dikutip Senin (3/8).
Kenaikan indeks itu menunjukkan kondisi sektor manufaktur ASEAN membaik pada awal kuartal III 2026. Penguatan terutama ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru dan output yang meningkat lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.
S&P Global mencatat, laju pertumbuhan pesanan baru pada Juli merupakan yang tertinggi sejak Februari 2026. Sejalan dengan itu, produksi manufaktur juga tumbuh solid dengan kecepatan tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Produsen Menambah Persediaan
Meningkatnya permintaan membuat perusahaan membeli lebih banyak bahan baku. Produsen juga kembali menambah persediaan untuk pertama kalinya dalam empat bulan, meski pengiriman dari pemasok masih sedikit terlambat.
Perbaikan permintaan turut berdampak pada pasar tenaga kerja. Jumlah pekerja di sektor manufaktur ASEAN meningkat untuk pertama kalinya sejak Maret 2026.
Meski demikian, penambahan tenaga kerja tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan produksi sehingga penumpukan pekerjaan meningkat ke level tercepat sejak Oktober tahun lalu.
Di sisi harga, tekanan inflasi kembali mereda setelah sempat meningkat pada April. Meski demikian, biaya produksi masih mengalami kenaikan dan sebagian beban tersebut diteruskan produsen kepada pelanggan melalui kenaikan harga jual.
S&P Global juga mencatat hampir seluruh dari tujuh negara ASEAN yang dipantau mengalami perbaikan kondisi operasional pada Juli 2026, kecuali Myanmar.
