Investasi Industri Tekstil Semester I Naik Dua Digit, Tembus Rp11,4 T
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat peningkatan investasi dan pertumbuhan industri. Investasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mencapai Rp11,40 triliun pada semester I 2026, naik 11,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,19 triliun.
Wakil Ketua Umum API Ian Syarif mengatakan investasi tersebut tidak hanya mengalir ke industri hilir pakaian jadi, tetapi juga ke sektor hulu yang memasok bahan baku bagi industri garmen.
Berdasarkan data API, investasi industri tekstil meningkat dari Rp6,05 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp6,78 triliun pada semester I 2026. Sementara investasi industri pakaian jadi naik dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun.
"Pertumbuhan investasi sebesar 11,85 persen merupakan indikator penting karena menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek pasar dan basis produksi Indonesia," kata Ian dalam keterangannya, Rabu (6/8).
Investasi ini dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, modernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, serta memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi tuntutan pasar global.
Selain itu, dampak berganda juga dirasakan karena proses produksi melibatkan seluruh rantai pasok, mulai dari industri serat, pemintalan, pertenunan, perajutan, pencelupan, penyempurnaan kain, hingga produksi pakaian jadi.
Kinerja Alami Perbaikan
Selain investasi yang meningkat, kinerja industri TPT juga menunjukkan perbaikan. Pada triwulan II 2026, sektor tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29% maupun industri pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,32%.
"Pertumbuhan 6,36 persen menunjukkan bahwa industri tekstil dan pakaian jadi masih memiliki daya tahan dan ruang ekspansi. Setelah menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir, industri ini kembali tumbuh lebih cepat daripada perekonomian nasional dan industri pengolahan nonmigas," ujar Ian.
Di sektor perdagangan, ekspor industri TPT pada periode Januari-Mei 2026 mencapai US$4,85 miliar atau naik 1,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$4,77 miliar. Sementara impor meningkat dari US$3,41 miliar menjadi US$3,58 miliar.
Meski surplus perdagangan menyempit dari US$1,37 miliar menjadi sekitar US$1,27 miliar, Ian menilai industri TPT masih menjadi penyumbang devisa yang penting bagi Indonesia.
"Akan tetapi, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa impor tumbuh lebih cepat dan surplus mengalami penyempitan. Karena itu, peningkatan ekspor harus dibarengi penguatan pasar domestik serta pengawasan terhadap impor ilegal dan praktik perdagangan tidak sehat," katanya.
API juga mencatat industri TPT menjadi salah satu sektor manufaktur padat karya terbesar di Indonesia dengan menyerap sekitar 3,86 juta tenaga kerja. Ian mengatakan keberlanjutan industri TPT tidak hanya penting bagi dunia usaha, tetapi juga bagi jutaan pekerja yang menggantungkan penghidupan pada sektor tersebut.
Ke depan, API mendorong pemerintah melanjutkan penguatan daya saing industri melalui penyediaan bahan baku, harga energi yang kompetitif, modernisasi mesin, peningkatan produktivitas tenaga kerja, pembiayaan industri, pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional, serta penindakan terhadap impor ilegal.
"Tantangannya sekarang adalah mengubah pertumbuhan menjadi peningkatan utilisasi, pesanan, ekspor, investasi, dan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan," ujar Ian.
