Kinerja Ritel Diproyeksi Tetap Tumbuh, Hippindo Bidik Belanja para Wisatawan
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) tetap optimistis kinerja sektor ritel mampu bertahan hingga akhir 2026. Kenaikan diprediksi ditopang tingginya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara selama musim liburan.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan aktivitas ekonomi selama periode libur sekolah menunjukkan sinyal positif bagi sektor ritel. Menurutnya, sejumlah kawasan wisata seperti Bali, Jakarta, dan Bandung dipadati wisatawan, yang turut meningkatkan kunjungan ke hotel, mal, dan pusat perdagangan.
"Tempat-tempat wisata, hotel, dan mal di Bali, Jakarta, Bandung itu penuh, bahkan macet. Artinya, pergerakan manusia ke Indonesia masih sangat besar," kata Budihardjo dalam konferensi pers Indonesia Retail Summit & Expo (ERSE) di Jakarta Pusat, Kamis (6/8).
Tingginya kunjungan wisatawan menjadi salah satu penopang konsumsi di tengah tantangan daya beli masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan politik agar Indonesia tetap menarik sebagai destinasi wisata maupun investasi.
Untuk menjaga momentum itu, Hippindo akan terus menggelar berbagai program promosi, termasuk festival belanja sepanjang Agustus, serta berkoordinasi dengan pemerintah guna memastikan rantai pasok dan ekosistem perdagangan tetap berjalan lancar.
Beberapa di antaranya yakni Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 yang akan digelar pada 26–27 Agustus, gelaran Hari Ritel Modern Indonesia (Harmoni), serta kampanye Belanja di Indonesia Aja (BINA) Agustus 2026.
Budihardjo mengatakan upaya itu diharapkan mampu menjaga arus pengunjung ke pusat perbelanjaan maupun toko-toko ritel di luar mal.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah agar ekosistem perdagangan dan rantai pasok berjalan baik, sehingga trafik konsumen tetap terjaga, baik ke toko offline maupun melalui kanal online," katanya.
Festival dan Diskon Jadi Stimulus di Tengah Pelamahan Daya Beli
Tantangan pelemahan daya beli masyarakat juga diakui oleh Deputi Prasarana dan Sarana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ismarini, yang menilai program-program itu bisa menjadi stimulus bagi gairah belanja masyarakat.
"Kami berharap momentum ini terus berjalan. Memang daya beli masyarakat sedang menghadapi tantangan, tetapi kami berterima kasih kepada asosiasi ritel yang terus mengadakan berbagai program belanja sehingga mampu mendorong masyarakat tetap berbelanja dan menjaga aktivitas perdagangan," kata Ismarini.
Ia menambahkan, terjaganya aktivitas perdagangan akan memberikan efek berganda terhadap sektor industri nasional karena membantu mempertahankan permintaan terhadap produk dalam negeri.
Ismarini mengatakan sektor ritel mencatat pertumbuhan yang melampaui ekspektasi pada triwulan I 2026, terutama selama momentum Ramadan dan Idulfitri.
Berdasarkan evaluasi pemerintah, penjualan ritel selama periode tersebut meningkat sekitar 15%, dengan pertumbuhan tertinggi justru terjadi di luar Pulau Jawa. Adapun Jakarta dinilai mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil.
Meski demikian, pemerintah memperkirakan sektor ritel akan menghadapi periode low season yang lebih panjang setelah Lebaran hingga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), tidak hanya pada tahun ini tetapi juga dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Menurut Ismarini, tingginya kunjungan wisatawan selama musim liburan menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kinerja perdagangan domestik. Selain didorong wisatawan mancanegara yang memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah, konsumsi wisatawan domestik juga terdorong oleh berbagai insentif pemerintah, termasuk stimulus transportasi selama masa liburan.
