Profit Peritel Menyusut akibat Diskon dan Biaya Naik

Kamila Meilina
6 Agustus 2026, 15:40
diskon, ritel, Hippindo, profit
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung memilih tas saat Festival Jakarta Great Sale di Kuningan City Mall, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan pelaku usaha ritel menghadapi margin keuntungan yang semakin tipis meski penjualan terus meningkat. Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan hal ini disebabkan kenaikan omzet dinilai tidak otomatis diikuti oleh pertumbuhan laba karena pelaku usaha harus menggelontorkan berbagai program diskon untuk menjaga daya beli masyarakat, di tengah kenaikan biaya dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Fenomena tersebut juga dirasakan langsung oleh para anggota asosiasi. Menurutnya, strategi mempertahankan penjualan saat ini dilakukan dengan mengorbankan sebagian margin keuntungan.

"Jadi itu kami alami juga. Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit. Itu memang strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit. Dengan diskon otomatis profit kami berkurang," ujar Budiarjo ditemui di kantor Kementerian Koodinator bidang Ekonomi, Jakarta Pusat, Kamis (6/8). 

Pemberian potongan harga menjadi salah satu upaya agar masyarakat tetap berbelanja di tengah tekanan terhadap daya beli. Namun, konsekuensinya adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi semakin tipis.

Karena itu, Hippindo berharap efisiensi yang dilakukan pelaku usaha di internal perusahaan dapat diimbangi dengan dukungan dari pemerintah melalui berbagai kebijakan yang mampu menekan biaya operasional.

Menurut Budiarjo, percepatan proses perizinan, perbaikan sistem logistik, serta digitalisasi layanan dapat membantu mengurangi biaya usaha sehingga ruang keuntungan perusahaan dapat kembali meningkat.

"Seperti logistik, perizinan harus cepat. Dengan online mungkin bisa menekan biaya sehingga biaya-biaya yang tidak perlu bisa ditekan. Dengan begitu profit bisa kembali dan kami bisa mengembalikannya lagi menjadi investasi," katanya.

Di sisi lain, Budiarjo menilai tekanan terhadap profit juga dipicu oleh kenaikan biaya akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurutnya banyak pelaku usaha berupaya menahan kenaikan harga jual agar tetap kompetitif, sehingga beban kenaikan biaya lebih banyak diserap oleh perusahaan.

"Ya, karena sekarang biaya naik dan rupiah melemah. Pelemahan rupiah juga menggerus profit kami karena kami berusaha menstabilkan harga," ujarnya.

Harga Barang Impor Naik hingga 10% 

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga dinilai mulai berdampak pada harga barang impor di pasar domestik. Budiharjo mengungkapkan pelaku usaha telah menaikkan harga sejumlah produk impor sekitar 5% hingga 10% dalam satu hingga dua bulan terakhir untuk menyesuaikan kenaikan biaya.

Penyesuaian harga tersebut telah dilakukan sejak satu hingga dua bulan terakhir, sehingga kenaikan harga tidak menunggu memasuki kuartal IV 2026.

"Jadi sebenarnya kuartal IV kalau dolarnya turun pasti kita juga akan mengikuti. Naiknya sudah sejak sebulan dua bulan lalu," ujar Budihardjo.

Kenaikan harga terutama terjadi pada barang-barang impor yang biaya pengadaannya sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs dolar AS. Besaran penyesuaian harga bervariasi, namun secara umum berada pada kisaran 5% hingga 10%.

"Iya, memang itu kalau barang impor. Naiknya sekitar 5% sampai 10%," katanya.

Per hari ini (6/8), data Bloomberg mencatat rupiah menguat 0,11% ke level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, sebelumnya kurs rupiah sempat menyentuh angka Rp18.027 per dolar AS. 

Meski demikian, Budihardjo menegaskan pelaku usaha tetap berupaya menahan laju kenaikan harga agar tidak membebani konsumen. Jika nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar AS, peritel juga membuka peluang melakukan penyesuaian harga.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...