Bursa Komoditas Strategis Diberi Nama Icomex, ICDX Berpotensi Diajak Masuk
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan bursa mineral dan komoditas strategis yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto akan menggunakan nama Indonesia Commodity Exchange atau Icomex. Bursa ini ditargetkan beroperasi mulai 1 Januari 2027.
Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa pemerintah masih menyiapkan sejumlah aspek teknis dan kelembagaan sebelum bursa tersebut mulai beroperasi nantinya. Rencananya, sejumlah komoditas seperti minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil atau CPO, nikel, dan batu bara bakal menjadi komoditas yang berpotensi masuk dalam Icomex.
“Yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu adalah produksi kita yang paling utama. Misalnya CPO, nikel, dan batu bara,” kata Prasetyo Hadi saat menghadiri Upacara Peringatan Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (17/8).
Prasetyo mengatakan pembentukan Icomex bertujuan memperkuat kedaulatan Indonesia atas perdagangan komoditas yang diproduksi di dalam negeri. Pemerintah ingin memiliki kendali lebih besar terhadap mekanisme perdagangan dan pembentukan harga komoditas strategis.
Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan, pihak pemerintah nantinya menyiapkan mekanisme penentuan harga dengan mempertimbangkan biaya produksi serta perkembangan harga komoditas di pasar global. “Intinya adalah kedaulatan terhadap barang-barang yang kita miliki, harus kita yang menentukan. selama ini kan tidak,” ujar Prasetyo Hadi.
Lebih jauh, ia juga mengatakan pemerintah masih membuka kemungkinan memasukkan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) ke dalam Icomex ke depannya. “Makanya ini sedang proses untuk diatur sedemikian rupa,” kata Prasetyo.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan bakal membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Langkah itu sebagai tahap lanjutan dari kebijakan ekspor satu pintu yang sudah dilakukan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Presiden menyebut rencana itu sudah dibahas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kita akan segera operasionalkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis di bawah pengawasan OJK. Jika bekerja dengan baik, pada 1 Januari 2027 kita akan memiliki bursa komoditas sendiri,” kata Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI & Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Dia menyampaikan, selama puluhan tahun Indonesia menjadi salah satu produsen terbesar untuk komoditas-komoditas penting dunia. Mulai dari kelapa sawit, nikel, timah, batu bara, kopi, karet, dan berbagai komoditas lainnya.
Kendati demikian, kata Prabowo, hasil alam yang keluar dari perut bumi Indonesia itu harganya justru ditentukan oleh bursa komoditas negara lain. Padahal negara itu tidak memiliki komoditas tersebut. Menurutnya, hal ini tidak masuk akal, dan tidak mengerti konsep ilmu ekonomi semacam itu.
“Kalau mereka (pihak luar) tidak mau bayar harga yang kita pasang, tidak usah beli. Lebih baik komoditas nikel, timah, emas, batu bara kita, gas kita, minyak kita semuanya di tanah untuk anak cucu kita,” ujarnya.

